Memberikan inspirasi dan informasi

Media kreasi Pondok Pesantren Syaichona Moh. cholil.

Crew Demangan News

Memeberikan yang terbaik dan selalu konsisten adalah prinsip kami.

LP3S

lembaga penerbitan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil

Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil

Pondok Pesantren YAng didirikan Langsung oleh Kyai Cholil Demangan Barata, Bangkalan Madura

Karya DN

Koleksi majalah DN.

Kamis, 12 Februari 2015

Ultahku di Hari Valentine (Antologi Cerpen Demangan news Edisi 30)

Ultahku di Hari Valentine

Di pagi hari yang begitu gelapnya dengan langit tertutupi awan mendurng membuat para santri putri tidak bersemangat mengikuti kegiatan. Sebagai ketua kelas di kelas VA IBT kubuka kembali pelajaran yang telah di pelajari tadi malam bersama teman-teman.
Kira-kira aku dapat apa nanti ya putri?” kata zia yang lagi ilfil kepadaku “ hus. Kita kan sudah mengadakan perjanjian dengan bunyai. Bagi siapa yang merayakan hari valentine maka ia akan dihukum, kamu mau rambut kamu dibotakin?” padaku kepada zia.
“kita kan bisa secara sembunyi-sembunyi “ kata zia
“ Aduh zia. Udah deh, sehebat-hebatnya orang melakukan kehajatan pasti bakal ketahuan juga, dan aku tidak mau terjadi apa-apa pada sahabatQ” PaksaQ pada zia. Ziapun hanya cengengesan. Zia memang orangnya suka ngotot dan keras kepala, tapi dia jug baik. Tidak lama kemudian kututup kembali kitabku karna waktu jam sekolah telah tiba dan aku bangunkan teman asramaku yang sedang tidur. Bagi santri Darul Falah tidur adalah menjadi kegiatan wajib sendiri.
Di kelas anak-anak banyak yang membicarakan masalah valentine yang memang tidak diperbolehkan di kalangan ummat islam. Tetapi masih saja banyak santri yang melanggar, sepulang sekolah banyak santri putri yang dipanggil oleh santri putra. Tapi hanya di luar  saja, untuk sementara ini santri putra manapun tidak diperbolehkan memasuki area santri putri, apabila mendapatkan hadiah maka langsung di rampas oleh pengurus serta mendapatkan hukuman.
Pada saat itu Fauzia sedang berada dikamar mandi dipanggil oleh kakaknya. Maka akulah yang menemuinya dan kebetulan aku sudah kenal dengan kak Saiful “ maaf kalau kak Saiful menunggu lama “ kataku setelah di hadapan kak Saiful.
Fauzia mana put? “ kata kak Saiful kepadaQ
Fauzia lagi dikamar mandi  kak, sebentar lagi dia sudah selesai kok. “Saya nitip ini  aja buat Fauzia soalnya saya masih ada urusan “ Kata kak saiful sambil mengulurkan sebuah amplop.
Akupun hanya terdiam menatap cowok di sebelah kak Saiful yang begitu cakepnya.
“Fauzia “ kata kak Saiful dengan suara agak lantang  “ eh. Ia kak “ jawabku yang agak  gugup. Sedangkan cowok di sebelah kak Saiful itu hanay tersenyum. Tidak lama kemudian Kak Saiful pergi, dan tak henti-hentinya aku menatap langkah si cowok itu pergi hingga menghilang dari penglihatanku dengan gembira aku kembali ke asrama dan memberi tahu Fauzia. Sesampai di asrama tak henti-hentinya aku mengingat si cowok itu sehingga aku tersenyum sendirian “ Putri kenapa lho? Senyam senyum sendirian kata Fauzia
“ Tau Gak, tadi di bawah aku bicara dari hati ke hati dengan teman kakak kamu” siapa?” ga tau pokoknya orangnya cakep putih dan lebih cakep dari kakak kamu”
“ O… itu Azis namanya sepupu que. Memang orangnya cakep banyak cewek-cewek cantik yang suka ma Azis, tapi Azisnya cuek aja. Malah dia bilang ga ada yang cocok “ jelas Fauzia padaku.
“Putri-putri “ panggil salah satu temanku
Ia ada apa ayu?” kamu dipanggil ustadzah maimuna. Kayaknya dia sedang marah” tutur ayu padaku. Rasa bahagiapun tiba-tiba berubah menjadi kesusahan. Berat rasanya kaki melangkah ke hadapan ustadzah Maimuna yang memang terkenal pengurus yang paling kejam di PPDF. Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan “ pikirku keringatku jatuh membasahi sekujur tubuhku.
“Assalmualaikum” kataku setelah sampai di depan kantor. “waalaikum salam” jawab ustdz maimuna yang menghadapkan mukanya kedepan tembok (membelakangiku) dan tiba-tiba dia langsung membalikkan tubunya menghadapku “Plak” ustadz Maimuna memukul bangku dengan keras. Seolah menggetarkan ruangan itu. Aku hanya menunduk dan mengalirkan air mataku dengan deras dan bartanya-tanya pada diriku sendiri yang tak berani menanyakan langsung pada ustadz Maimuna.
Beberapa perkataan dan ancaman yang keluar dari mulut ustadz Maimuna jika dalam tempo 2 hari aku tidak menemukan bukti, maka terpaksa dia menghukumkum.
Ustadz” kataku dengan gemetar. “diam. Sudah banyak teman-teman kamu melaporkan, bahwa kamu seri ketemuan dengan santri putra. “Jelas ustadz Maimuna. Akupun tidak mengerti maksudnya apa.
Ustadz” kataku lagi, aku sudah tidak percaya lagi omongan kamu, karna bukti ini sudah kuat bahwa kamu mendapatkan ini dari santri putri.” Kata ustadz sambil menunjukkan kado yang berwarna biru dan dilingkari dengan sebuah pita. “sekarang kamu keluar dan ingat 2 hari lagi” akupun keluar dengan diiringi air mata yang selalu membasahi pipiku.
Dan aku tidak mau semua orang menganggapk orang yang munafik. Dan aku langsung menangis kepada sahabatku. “Fauzia, kamu percayakan sama aku? Kalau aku tidak pernah melakukan hal itu, dan tolong bantu untuk cari bukti, bahwa aku tidak pernah melakukan hal itu.”
“Putri aku tidak menyangka sama kamu ternyata aku salah menuai kamu” kata Fauzia yang tiba-tiba berubah 100% padaku. Akupun semakin menangis, kenapa semua orang tiba-tiba berubah membenciku. Dan aku hanya bisa menangis dan menangis. Siang malampun aku berdoa kepada Allah SWT supaya terbukti  bahwa diriku tidak bersalah.
Hari begitu cepat berganti, sehingga kini telah sampailah pada hari yang ditunggu-tunggu oleh ustadz Maimuna. Di depan anak-anak ustadz memarahiku “ putri aku tidak membutuhkan tangisanmu, aku hanya membutuhkan bukti bukti dari kamu” kata ustadz Maimuna dengan kejam dan kini saatnya semua pengurus menggundul rambutku. Aku hanya bisa pasrah. Dengar tiba-tiba musholla menjadi gelap akupun semakin ketakutan dan dengan tiba-tiba mushollah terang kembali dan ruangan itu sangat indah dan semua teman-temanku mengucapkan HAPPY BIRTHDAY dengan membawakan sebuah kotak berwarna blue kini tangis kesedihanku berubah menjadi keharuan dan Fauziapun langsung memelukku “Happy Birthday” ucapnya padaku. Untuk teman-teman dan para pengurusku ku ucapkan terima kasih karna kalian telah peduli  padaku” dan akupun langsung memeluk ustadzQ satu-persatu”Putri ini hadiah dari Aziz”
“Azis? “ kataku sambil mengernyitkan dahi
“Buka-buaka” suara teman-temanku dengan kompak. Dan akupun langsung membuka dan di dalamnya terdapat sebuah kertas dengan tulisan yang sangat besar
“HAPPY BIRTHDAY PUTRI KE 18”. Dan sebuah kata yang tidak Que sangka “ I Love You Putri” dan kini kebahagiaanku jauh lebih besar dari kesedihanku kemaren.

By: Arhabunnajwa

         Putri Maghfi

FILZA HANYA UNTUK AL-ARIF

FILZA HANYA UNTUK  AL-ARIF

Filza Vivian  Seven nama yang indah dan mungil yang merupakn nama lengkap gadis manis dan imut yang membuat semua orang terpana dan berdecak kagum bila memandangnya, karena kecantikan wajahnya, sikapnya yang lemah lembut dan suka menolong yang disenangi semua sahabatnya.
Pada tanggal 20 Agustus 2012 Filza panggilan akrabnya berulang tahun pada usianya yang ke 20 tahun. Arif  sebagai kekasih hatinya, yang mempunyai wajah diatas rata-rata orang biasanya yang kebanyakan orang mengatakan kayak artis memberikan sebuah kado foto yang digandeng dengan filza dan jaket yang mungil sebagai hadiah ulang tahunnya.
“Happy birthday” Filza ku yang manis !!! ucap Arif sambil menyerahkan kadonya. “thanks banget yach.! Ucap Filza dengan tersenyum. Tapi bagi Filza pemberian Arif mengingatkan Filza pada seseorang yang dulu pernah singgah dihatinya, Syaif. Yach dialah cinta pertama Filza yang dulu juga memberikan hadiah sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 18, sampai sekarang Filza belum bisa melupakan Syaif, Filza masih menyayanginya meski Filza udah mempunyai Arif di dalam lubuk hatinya.
“Filza…!!! Panggil Arif membuyarkan lamunannya, “kamu kenapa  sich, kok bengong gitu? Tanya Arif. “aku ga’ apa-apa kok! Jawab Filza bohong. “kamu ga’ usah bohong Fil aku tahu kamu, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku! Kata Arif mengetahui bahwa Filza berbohong padanya. “Arif maafkan aku, sebenarnya sampai saat ini, aku masih belum bisa melupakan Syaif dan aku masih menyayanginya, kekasih yang dulu yang kini aku gak tau ada dimana, tapi aku gak mau membohongi perasaan aku sendiri! Jelas Filza mengatakan sejujurnya pada Arif. “Arif sekali aku mohon maafin aku karena perasaanku ini! Imbuh Filza penuh harap. “kamu gak usah minta maaf, kamu gak salah aku ngerti giman perasaan mu. Emang bener kata orang-orang kalau cinta pertama itu sulit tu dilupakan, iya kan! “air mata Filza jatuh basahi pipinya mendengar kata-kata Arif yang membuatnya merasa bersalah pada Arif. Arif yang melihat Filza menangis merasa gak tega, Arif menghapus air mata Filza dan mendekap Filza dalam pelukannya, memberikan kedamaian pada Filza cewek yang sangat disayanginya.
Beberapa bulan telah berlalu Filza menjalani hari-harinya bersama Arif yang selalu buat  hari-harinya penuh dengan senyum dan tawa yang menemaninya dalam suka dan dukanya. Hingga akhirnya, Filza benar-benar luluh oleh kebaikan dan kasih sayang Arif padanya yang sebelumnya tak pernah Filza dapatkan dari Syaif, perhatian yang lebih padanya. Arif mang lebih segalanya dari Syaif. Dan ternyata Filza telah bisa menyayangi dan mencintai Arif sepenuh hatinya dan sedikit demi sedikit Filza bisa melupakan Syaif dan menghapus semua kenangan yang pernah dilalui bersama Syaif.
Suatu hari…Saat Filza sedang nonton TV diruang keluarga bersama ibunya, tiba-tiba ibunya menanyakan Syaif pada Filza. “Filza…kamu masih ingat Syaif gak? Tanya ibunya yang membuat Filza terkejut. “mang kenapa bu…kok tumben ibu nanyain Syaif , Syaif kan udah gak ada disini lagi!!! Filza balik nanya lagi dengan mimik wajah yang kurang suka. Begini Filza…. kemarin  ibu dan pak Rafi, bapaknya Syaif berniat untuk menjodohkanmu dengan Syaif, bukankah kamu dan Syaif saling mencintai, lagian bentar lagi Syaif juga akan datang kesini!!! Jelas ibunya panjang lebar mengira bahwa Filza masih menyayangi Syaif. “tak ada yang bisa Filza katakan, Filza terdiam seribu bahasa pikirannya melayang jauh entah kemana. “Kenapa disaat aku mulai menyayangi Arif dan gak mau kehilangannya Syaif mesti hadir kembali dalam hidupku. Padahal selama ini aku udah berusaha melupakannya, aku sayang banget ama Arif, aku gak mau kehilangannya!!! Rintih Filza dalam kesendiriannya.
Filza kok diam aja cih…kamu bersedia kan tunangan ama Syaif ibu dan pak Rafi telah mempersiapkan semuanya untuk acara pertunangan mu nanti !!! lanjut ibu tanpa mengetahui betapa sakitnya perasaan Filza. “tanpa menjawab pertanyaan ibunya Filza beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ibunya sendiri. Filza berlari kekamarnya gak kuat menahan air mata yang sejak tadi di tahannya dan akhirnya Filza menangngis  sejadi-jadinya. Filza bingung gak tahu apa yang harus di lakukan selain menjalani apa yang akan terjadi nanti, meski sakit mengiris jiwa.
Keesokan harinya Filza pergi kerumah Arif, bermaksud mengatakan masalah pertunangannya dengan Syaif. ”Fil kamu kenapa Mata kamu kok sembab kamu habis nangis ya??? Tanya Arif. “Aku…aku….!!! Ucap Filza gugup dengan air mata yang mengalir basahi pipinya. “ada apa Fil…kamu ada masalah aku gak pengen kamu sedih kayak gitu….??? Arif merasa khawatir dengan kekasihnya. Arif…. Maafin aku. Aku akan dijodohkan dengan orang lain oleh ibuku.  Dan bentar lagi acara pertunanganku akan segera dilangsungkan!!! Dengan hati yang berat Filza mengatakan yang sejujurnya pada Arif. Dengan siapa?? Tany Arif seakan dia kecewa mendengar penuturan dari Filza. ” Syaif !!! jawab Filza lirih.”bukankah dia kekasihmu dulu yang sangat kamu sayangi ia kan??? Kata-kata Arif seakan membuat Filza sakit mendengarnya.
“ia bener… tapi aku tak mau ditunangin ama Syaif, aku sayang banget ama kamu!!! Ucap Filza dalam isak tangisnya. “Aku juga sayang banget ama kamu dan aku juga gak mau kehilangan kamu, karena bagiku kaulah yang terindah dan terbaik dalam hidupku.tapi kalau takdir  berkata lain.kita gak bisa berbuat apa-apa.kita harus bisa menerimanya.sekilipun itu amat menyakitkan bagi kita. percayalah Fil, kalau emang kita jodoh Allah Swt pasti akan menyatukan cinta kita kembali sekarang jalanilah apa yang ada aku pasti akan slalu mendapingimu untuk kebahagianmu!!kata kata Arif begitu menyentuh hati Filza.
Satu minggu kemudian Acara pertunangan Filza dan Syaif di langsungkan dirumahnya Filza. Dan Arif hadir disana.memberikan ucapan selamat pada Filza meski hatinya hancur dan kecewa.keluarga Filza dan keluarga Syaif, tapi tidak bagi Filza bahkan sebaliknya Filza merasa terpukul atas pertunangannya dengan Syaif.yang ia tidak harapkan.
Pas acara penukaran cincin dimulai saat Syaif hendak memasangkan cincin di jari manis Filza.tiba-tiba cincin itu jatuh bergelinding dan berhenti tepat di bawah kakinya Arif. Arif mengambil cincin itu dan bermaksud menyerahkannya kembali pada Syaif, tapi Syaif tidak mau menerima cincin itu .Filza menghampiri Syaif yang bersama Arif, Filza  mungkin Ariflah yang pantas menjadi tunanganmu bukan aku. Aku tau semuanya Fil kalo kamu sangat menyayangi Arif kekasihmu aku gak mau jadi penghalang cinta kalian berdua kata Syaif dengan mimik wajah yang serius “Arif …aku nitip Filza padamu bahagiakanlah dia dan jangan pernah sakiti dia!!! Pesan Syaif dengan menepuk bahu Arif, “Syaif … maafkan aku!!! kata Filza dengan mata yang berkaca-kaca Syaif hanya tersenyum pada Filza dan Arif Akhir kata dariku semoga kalian berdua jadi pasangan yang serasi dan bahagia sampai kejenjang pelaminan nanti dan sampai kapanpun!!! Ucap Syaif untuk yang terahirkalainya pada Filza dan Arif, sambil lalu pergi keluar meninggakan semua yang ada dirumhnya Filza semua para tamu undangan dan keluarga Filza serta keluarga Syaif. Tercengang dan kagum pada sikap Syaif yang sangat dewasa dan bijakssana. itu. Dan akhirnya Filza dan Arif bisa bersama kembali dalam kebahagiaan yang mereka inginkan selama ini semoga mereka berdua selalu berada dalam ridhonya dan semoga cinta mereka berdua disatukan di dunia dan Akhirat-Nya Amin…Amin Ya Robbal Alamin !!!.
Oleh : M. S. Arifin

Wadik’s Putra        

Minggu, 08 Februari 2015

I hate Friday!!! (Antologi Cerpen demangan news edisi 28)

I hate Friday!!!

(Aku benci hari jum’at)
Aku tak tau ini jalan takdirku atau ini jalan yang harus aku tempuh, saat mama melahirkan aku ke dunia, dan member nama ARVIE  kepadaku tak ada sedikitpun angan yang terlintas aku akan memilki hari keburukan.
Pertama, aku menganggap hal ini hanya kebetulan semata namun, kejadian tragis, aneh, dan kesialanpun silih berganti di hari yang sama, sialnya hari itu sama dengan hari dimana aku di lahirkan yaitu hari jum’at.
Di hari jum’at aku harus menerima mamaku pergi untuk selamanya di usiaku yang ke sebelas, dihari jum’at aku harus ngalamin kecelakaan hingga aku ter paksa harus ngorbanin jari kelingking kiriku, di hari jum’at juga aku harus dapetin papa bersama wanita lain di pelaminan, padahal aku gak mau ada mama kedua dalam hidupku, di hari jum’at pula aku kehilanhgan berlian liburan di singapura karna kecerobohanku.
intinya hari jum’at aku apes!!!
Hingga pada suatu hari saat ummi (mama baruku) mengajak aku pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan dapur yang tak jauh dari rumah, aku harus menerima kenyataan pahit lagi ketika ummi hendak menyebrang tiba-tiba sepeda motor dari arah berlawanan menabrak ummi dengan tragis, seketika ummi ambruk tak sadarkan diri dengan cucuran darah di kepalanya.
“ummi……!!! Teriakku histeris.
Ku lempar semua belanjaan di jalan, ku berlari menuju ummi yang terkapar di jalan, tangisan mulai terdengar. Akhirnya  ummi langsung di larikan kerumah sakit, tak lama menunggu di luar ummi dirawat papa datang bersama dengan richo sahabatku.
“bagaimana keadaan ummi sayang”  Tanya papa memelukku.
“arvie gak tau pa….!!! dokter masih nanganin ummi di dalam, arvie takut pa! “ jawabku ter isak di pelukan papa.
“kita do’ain ummi yang terbaik saja yach!” Richo angkat bicara membuatku lebih tenang.
Dua jam menunggu akhirnya dokter keluar dengan keringat bercucuran, wajahnyapun tak bersahabat tak seperti yang kami harapkan
“maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi nyawa pasien tak bias kami selamatkan“, pasien kehabisan banyak darah” tutur dokter sambil meninggalkan kami.  
Saat itu pula air mataku deras membasahi pipi, ku dekati ummi yang telah tertutup kain putih, ku buka kain penutup muka ummi ku lihat wajah cantik ummi pucat pasi, lebih tenang dari sebelumnya, ku kecup keningnya dank u peluk erat tubuhnya.
“ tuhan, walau dia bukan ibu kandungku, aku sangat menyayanginya dia layaknya mama yang hadir kembali dalam hidupku berilah tempat ter indah di sisimu, tempatkan ummi di surga firdausmu amien…! Do’aku sambil menutup kembali kain putih di wajah ummi.
“yang sabar ya vie” ucap richo memegang kedua pundak ku. Ku jawab dengan anggukan lemah ku lirik papa yang mencoba tegar dengan semua ini, walau kesedihan menyelimuti hati papa namun papa menyembunyikan semua itu dari aku.
Setelah pemakaman selesai, aku rebahkan tubuh ku di kamar, ku buka buku harian milikku yang setia mendengarkan curahan hati ku, ku tulis kejadian yang menimpaku saat ini dan betapa terkejutnya aku ketika ku lihat kalender yang menunjukan hari jum’at.
“ah… jum’at sial….! Ku teriak senyaring mungkin ku lempar buku harianku ke tanah dan ku obrak-abrik semua isi kamar hingga richo sahabatku meleraiku dari belakang,
“loe apa-apaan sih vie…..? loe sudah gila ya? Loe kenapa? Tanya richo kesal.
“ rich, kenapa sih kesialan yang menimpaku harus hari jum’at….? Ucapku mulai tenang di pelukan richo. Richopun melepaskan pelukannya dari belakang saat kesadaran telah memenuhi otakku. Apa loe bilang kesialan…? Di hari jum’at? Itu kebetulan aja kale vie..? gak ada yang Namanya kayak gituan…! Jelasnya, “ gue janji dalam waktu dekat loe bakalan menyukai hari jum’at dan loe akan mengenangnya pula! Camkan itu! Lanjutnya dan meninggalkan aku sendiri di kamar.
Seminggu lamanya richo gak ada kabar nomer handpondnya pun sudah lama tidak aktiv, aku mulai gelisah karna hari ini adalah hari jum’at dan hari ini pula aku ulang tahun yang ke 17. Papa mengajak aku makan malam special di hari ultah ku dan papa menghadiakan sebuah mubil baru untuk ku, kebahagiaan sesaat aku rasakan tanpa mama dan ummi memeriahkan hari ultahku. ”aku rindu kalian” bisikku.
Malam harinya tiba-tiba aku dapatkan sms yang pertama dari richo, senyum manis tiba-tiba tersungging di bibir ku, richo mengajakku diner malam ini. Kudatangi restouran ternama bersama richo. “kemana saja sih selama ini..?” tanyaku pada richo.
“sibuk” jawabnya singkat, O iya, happy bird day ya vei….! Ini buat loe ucapnya lagi menyerahkan kado kecil di hadapanku. Ku buka dan ternyata isinya cincin berlian, richo meraihnya dan dan memekaikan pada jari manis kanan ku.
“vie… gue sayang ama loe, selama ini gue nyimpan persaan gue sama loe, gue sengaja ngongkapin perasaan ini hari jum’at dan kebetulan ini hari ultah loe, gue mau jadi pacar loe, apa u mau jadi pacar gue?” ungkap richo membuat aku bingong harus jawab apa?
“vie.. jawab..! gue srius sayang sama loe. Dan gue harap loe ngerti sama perasaan gue..! lanjutnya,
“rich, sebenarnya gue juga sayang sama loe, gue gelisah saat loe gak ngasih gue kabar, gue ngerasa kehilangan loe saat itu, gue mau jadi pacar loe rich” ucapku lirih.
Tiba-tiba richo menggengam tanganku dan mengecupnya bergantian.
“Thenk’s vie gue harap loe gak ngebenci hari jum’at lagi”
“iya rich”
Makasih tuhan, kau telah mengirimkan cara terindah agar aku tak membenci haru jum’at, dengan mengotus richo menjadi pujaan hatiku, aku janji mulai hari ini jum’at 30 desember 2011 aku akan menyukai hari jum’at dan selalu mengenangnya……
The end
By: “vicho arviansyach gilbertz”
=che-che pepenk clalu=

301211

‘’ TANGISAN PERPISAHAN ‘’ (Cerpen mading demangan news Edisi 26)

‘’ TANGISAN PERPISAHAN ‘’

Begitu sempurna tuhan menciptakan dunia ini hingga dia menciptakan indahnya laut dan indahnya awan. Sungguh besar kekuasaannya hingga dia memberi anugrah yang terindah yang menyerupai cinta pada setiap manusia, hingga juga aku yang mencintai seorang gadis sederhana.
Awalnya dari aku kecil hingga beranjak dewasa aku selalu bersamanya hingga aku menaruh hati pada gadis itu, dia adalah Aisyah, gadis cantik seperti tak ada bandingannya hingga semua lelaki ingin memilikinya.
Pada suatu hari saat aku pulang dari masjid aku bertemu dengan Aisyah, ‘Assalamualaikum Aisyah?’ sapa ku ‘Waalaikumussalam’ jawab Aisyah ‘Kamu dari mana?’, ‘Dari pesantren’, ‘Kakak sendiri dari mana?’, ‘dari masjid’, ‘oh iya kak Aisyah pulang dulu ya’, ‘gak enak ngobrol sama laki-laki apalagi ini tempat umum takut jadi fitnah, Assalamualaikum ya kak’, pamit Aisyah, Aisyah sangat terburu-buru sepertinya dia takut sekali kalau ada orang lain yang melihatnya sedang berdua dengan orang laki-laki ‘sungguh mulai hati mu Aisyah’ besit batin ku seiring dengan semakin bergemuruh cinta ku pada Aisyah, kalau misalnya sehari tidak bertemu rasa rinduku pasti begitu menyiksa batin ku. ‘Tuhan mengapa harus aku yang mencintainya…. Aku harus mengungkapkan perasaan ku padanya sebelum dia benar-benar menjadi milik orang lain, tapi apakah mungkin dia mau menerima cinta ku ya? ‘tanya batin ku ragu’.
Keesokan harinya aku pergi ke toko buku aku kaget ternyata disana ada Aisyah, dan di saat aku ingin mengambil buku yang aku cari Aisyah juga ingin menagmbil buku itu hingga tanpa sengaja aku menyentuh jari-jari lembutnya, Aisyah pun langsung melepaskan tangannya dari tangan ku, ‘maafkan aku Aisyah aku tidak sengaja’ aku pun mengambil buku yang aku cari kemudian aku memberinya kepada Aisyah, ‘ini bukunya yang kamu cari kebetulan bukunya tinggal satu jadi buat kamu aja deh.!! Makasih ya kak Faris ‘balas Aisyah hanya tersenyum.
Sebenarnya aku ingin mengungkapkan perasaanku  pada waktu itu , meski jantung ku berdetak begitu kencang  aku tetap tidak mampu untuk mengungkapkan perasaan ini, ‘oh.. tuhan sampai kapan aku memendam perasaan ini, aku begitu gugup disaat berhadapan dengannya, ‘besit batin ku’ setelah Aisyah membayar buku yang dia beli Aisyah pun pergi kemudian aku mengejarnya, ‘Aisyah tunggu.... Kita pulang bareng yuk’ tawar diriku penuh harap “boleh”  jawabnya simple. Ketika sampai di pertengahan jalan aku mengajak Aisyah jalan-jalan, kami berjalan terlalu jauh mencoba meresapi perjalanan ini hati ku mulai ringan untuk membawa beban dalam perasaan ini, aku tatap Aisyah waktu itu sangat cantik dengan baju ungunya apa lagi dengan kerudung hitam yang membuat dia Nampak begitu sempurna, kami berhenti sejenak menikmati pemandangan yang begitu indah kami terus melangkah mengikuti langkah kaki ini berjalan kami berdua saling diam sunyi  entah apa yang terjadi tiba-tiba mulut ku bergetar ringan, “Aisyah aku ingin jujur sama kamu kalau sebenarnya aku mencintaimu” Aisyah menangis ketika aku berhasil mengungkapkan perasaan ku aku menanyakan kenapa dia harus menangis, aku mencoba minta maaf karena aku merasa aku bukan siapa-siapa namun ternyata ada yang beda, “kakak gak salah aku hanya menangis karena aku bahagia sekali karena aku juga mencintai kakak tapi karena kakak tidak pernah jujur dari dulu”, aku meloncat kegirangan, aku tidak menyangka klau aku diterima oleh Aisyah sebuah janji pun terungkap dari kita berdua bahwa kita harus bisa saling melengkapi karena aku tidak bisa hidup tanpa Aisyah dan Aisyah tidak bisa hidup tanpa dirirku.
Kamipun beranjak pulang kerumah masing-masing tapi kejadian yang tadi selalu menghantuiku Aisyah selalu hadir dalam kesendirian ku. Aku mencoba menghubungi Aisyah untuk mengajak jalan besok.
Aku pergi kedekat jalan toko buku ternyata disana Aisyah telah menunggu, aku masuk ke toko buku meski Aisyah bertanya-tanya namun aku hanya diam saja, Aisyah mulai kesal kemudian aku mengambil satu buku yang menurut ku begitu indah, aku berikan buku itu kepada Aisyah aku katakan padanya agar dia bisa menjaga buku yang ku berikan itu dia bertanya-tanya tentang pesan ku ini dan aku hanya bilang “Ais setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan”, “maksud kak Faris apa?” tanya Aisyah penasaran, “Ais sebelum kita berpisah aku ingin meyakinkan kalau kamu mencintaiku”, “apa yang kakak ragukan kepada Ais?, aku akan terus mencitai dan setia sama kakak apapun yang terjadi”, “meski kanker otak stadium empat” jawabku memotong perkataan Aisyah, Aisyah kaget ketika mendengar hal itu, hanya air mata yang keluar dari kedua ma’rifatnya, namun meski begitu dia meyakinkan kalau dia akan terus setia sampai akhir hayatnya. “terima kasih Aisyah…! kakak akan berusaha untuk bisa sembuh dari penyakit ini, lalu akau ingin mekhitbah mu setelah kakak sembuh nanti “.
Setelah faris mendapat kepastian dari aisyah faris mencoba untuk chek-up kedokter spesialis otak untuk memantau perkembangan penyakit kronis didalam tubuhnya ini , ketika kami hendak pulang kira-kira tiga langkah, aku mendengar teriakan kak faris,
“aisyaaaaah toloooong…..” bruk ……!!!
Aku langsung berbalik,kebelakang, sambil meneteskan air mata. Ku lihat kak faris terkapar di tengah jalan, truk telah menabrak kak faris, ku berlari memanggil kak faris, “kak fariiiis jangan tinggalkan aisyah”
Aku merangkul kak faris yang berceceran darah, ku angkat kepala kak faris yang ada di tanah, ku bantalkan kepala kak faris pada lenganku…….
          Air mataku terus berjatuhan “maafkan kakak, kakak sangat mencintai mu….
“kak faris jangan tinggal kan ais kak” ku terus menangis sejadi-jadi nya, ku lihat kak faris telah tiada. Betapa  hancurnya hati ini melihat apa yang telah terjadi, aku pingsan tak sadarkan diri saat kajadian itu,setelah aku sadar aku terus meneteskan air mataku, aku tak bisa untuk menghentikan air mataku. ”kak faris mengapa perpisahan kita menjadi seperti ini kak?  Penuh dengan tangisan, ya tuhan… cobaan apalagi yang engkau berikan padaku…? Sambil meneteskan air mata, setelah seharian menangis tiba-tiba ada teman kak faris dia datang dengan membawa surat.ternyata kak faris sebelum mengajak ketemuan dia sudah menulis surat untuk ku.
To: aisyah kekasih ku
Asslamualaikum…..
Langsung aja…???
Seelok syair menyentuh hati,
Seindah pelangi di  senja hari
Ku tulis surat untuk kekasih hatiku Aisyah.
Aisyah maaf kan kakak mungkin kakak tidak lama hidup di dunia ini, karna kakak di temani penyakit.
Aisyah kakak sangat mencintaimu ku mohon tersenyumlah selalu jika kita berpisah kamu harus tegar  jika besok penyakit kakak membawa pergi  kakak, jaga dirimu baik-baik jangan sampai lupakan kakak dalam hidupmu, mugkin waktu kita hanya sebentar, jika kakak tiada nanti, kakak akan menunggu ais di surga, wassalam,,,,
from: faris abdulloh
Air mataku tak dapat  kutahan  aku menagis dalam perpisahan ini
“kak faris mengapa perpisahan kita penuh dengan tangisan, sungguh  Aisyah tak kuat hidup tanpa kak faris………..
Sekarang aku telah kehilangan kak faris, tapi aku akan selalu mencintainya walaupun dia telah  tiada.
By: L-Za  P3 Bias Pelangi
From: Tamela  “ Bangkalan 2013"



Sahabat kecilku (Cerpen mading demangan news edisi 26)

Sahabat kecilku

Semua telah berubah….tak ada lagi canda tawa seperti saat semua masih bersama, taka da lagi jeritan karena bahagia dalam keberhasilan, dan juga taka da yang mengeluh saat ada kesulitan. Semua telah mengurus diri masing-masing tak ada lagi  yang mau menoleh peduli pada yang lain.
          Mereka dalah sahabat kecilku yang kini telah tumbuh dewasa dan mmengejar cita-cita.  Aku  adalah orang pertama yang ingin selalu bersama hingga kami sama-sama dewasa, dan aku jug ayng pertama  Pergi meninggalkan mereka,  karena tak ingin egois dari kehendak orang tua yang emngingunkan aku kuliah di luar kota.
          Mereka tidak lagi bersama seperti saat aku bersama mereka, tak lagi bererti kecuali sebuah kenangan yang tak mungkin kembali….. kadang aku tersenyum sebelum akkhirnya air mayta mengalir, yang tenpa sengaja aku teringat akan kenangan masa lalu yang telah pergi bersama waktu, di saat kami belum mengenal cinta kecuali sebuah kebersamaan yang begitu indah.
Rahma sahabat kecilku kini dia telah menjadi orang yang sibuk dengan  membangun usaha karena  cita-citanya ingin menjadi seorang pengusaha, apalagi ingin bertemu mendengar kabarnya saja begitu sulit, hampir taka da kabar, taka da berita tentang dia. Andra hanya tersenyum dari kejahuan lalu pergi tanpa terlbih dahulu menghampiri . rina dan juga rini dua wanita cantik yang bersaudara  mereka adalah sahabat kecilku yang mungkin sudah sangat lupa terhadap masa lalu, lupa akan arti sebuah  persahabatan, taka da lagi senyuman tersunting dari bibir mereka saat bertemu denganku  apa lagi sampai menyapa!, mereka seakan tak pernah mengenalku mereka benar-benar lupa dengan masa lalu. Aku pun merasa malu menyapa mereka, aku kira hanya mereka yang telah melupakan arti persahabatan akan tetapi ternyata faisalpun juga seperti mereka, dia sibuk mengurusi  keluarganya, dia juga tak lagi tinggal di desaku tempat kami bersama dulu, Faisal tinggal dirumah istrinya, dia kini  telah bermobil mewah dan sok pasti dia telah menjadi orang kaya di desanya, dia tidak mau menoleh peduli pada orang di sekitarnya, bahkan dia tidak mengenal orang yang seperti aku yang berjalan dengan kedua sandal bututku.
“ hemmmmm….semua telah benar-benar berubah  taka da lagi kebersamaan yang indah seperti saat kami  sama-sama remaja, kebersamaanpun seiring kami dewasa, semua itu sangatlah singkat  saat ku pejamkan mata dan setelah kembali kubuka semua telah berubah,  setelah mentari terbenam hingga mentari terbit, untuk menyapa dunia ini, siang tidaklah abadi karena masih ada malam yang mengganti, taka da musim hujan yang berkepanjangan selama  masih ada musim kemarau yang siap menyelingi,  persahabatan yang indah takkan selamanya indah jika masih ada perpisahan  yang berakhir dengan melupakan.
“ ardi apakah karena aku bukan ardi yang dulu  hingga  hampir semua dari mereka tak mengenalku, akan tetapi memang tak ada lagi kebersamaan di antara aku dan mereka setelah perpisahan itu datang, dan aku rasa itu karena aku, haruskah aku langkahkan kaki sejauh lelahku..?. ataukah aku harus pejamkan kedua mataku untuk mengulangi masa lalu dalam mimpiku….?.
          Tanah kelahiranku telah dirubah oleh waktu, jalan-jalan berbatu telah hitam memanjang , dan juga lebar dari tepian  desa menembus kota. Kedua kaki yang aku langkahkan mulai tak mengarah, tak dapat kupahami perubahan ditanah  kelahiranku, waktu telah membawaku  pergi  sangat jauh,  sejauh  masa lalu pergi  meninggalkan aku, hingga kau  aku temukan kembali tawa masa lalu yang telah pergi bersama waktu, bukan mereka  teman-teman kecilku, tapi persahabatan mereka memaksaku untuk selalu mengingat  kenangan itu, sahabat kecilku yang pernah menjadi istimewa dalam hidupku.

By: Ra Ma_Man

Sabtu, 07 Februari 2015

Hati yang Bocoro (Cerpen mading demangan news Edisi 23)

Hati Yang Bocor

Aku kenal  Dina dari Twitter. Berawal dari saling mention tweet, kami menjadi begitu dekat. Hingga kami putuskan untuk kopi darat. Sebenarnya ia juga satu sekolah denganku. Hanya saja sekolahku terlalu besar, jadi sulit bagiku untuk bertemu dengannya.
Aku sendiri adalah anak seorang tukang tambal Ban di daerah Sampang. Tapi aku masih bisa bersekolah di salah satu SMK Negeri di Surabaya.
Teman-temanku di SMK mayoritas anak orang kaya. Minimal anak pegawai negeri lah. Hingga aku malu untuk mengakui status orang tuaku. Aku juga malu jika gayaku kampungan. Aku selalu ingin tampil keren dan modis di depan teman-temanku. Apalagi bisa dibilang mukaku cukup ganteng.
Malam minggu aku janjian dengan Dina di salah satu kafe di daerah Waru. Tak terlalu lama menunggu, Dina tiba. Ia langsung duduk di sampingku setelah melihatku duduk di salah satu meja di tengah ruangan.
“Udah lama nunggunya Fa? Maaf yah, aku telat. Taxi yang aku tumpangi tadi lemot.” ucap Dina membuka pembicaraan
“Oh gak papa kok. Aku baru 10 menit nungguin kamu. Hmmm…. Ternyata cantikan aslinya yah daripada yang di foto.”
“Hehe, bisa aja kamu. Kamu kelas berapa sih? Aku kok gak pernah liat kamu di sekolah.”
“Kita sama-sama kelas 12 kok. Cuma aku di RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) kelas kita jauh, makanya gak bisa ketemu.” jawabku.
”Oh, pantesan. Hmmm… kamu asli mana?”
“Aku orang Bangkalan. Itu, tempat besi tua. Orang-orang banyak tahu kok.”
Obrolan kami pun mengalir. Tak terasa 2 cangkir green tea tandas kami minum. Kami saling tanya mengenai pribadi masing-masing. SDnya dimana, kost dimana, suka warna apa, dan masih banyak lagi.
Jam 9 Dina memutuskan untuk pulang. Aku mengantarnya dengan motor CBR  yang aku pinjam dari anak tuan kostku. Kebetulan aku akrab sekali dengannya.
Dua bulan hubungan kami makin dekat. Hingga aku berani mengutarakan perasaanku padanya. Ia pun menerimaku. Ya, segampang itu. Aku juga heran.
Satu minggu aku jadian dengannya, ia mengajakku berakhir pekan di Kenjeran. Aku menyanggupinya. Tapi masalahnya bajuku itu-itu saja. Aku ingin yang baru dan tampil lebih baik di depan Dina. Akhirnya aku menelepon ke rumah untuk meminta kiriman uang.
“Pak, minggu nanti aku ada acara sekolah di Kenjeran. Aku perlu uang lebih.” pintaku.
“Loh? Uang bulanan 2 minggu lalu udah habis cong?”

            “Ya ada pak. Tapi tinggal sedikit. Ini acara sekolah, makanya aku perlu.” tambahku.
“Ya udah cong, paling lambat hari sabtu bapak kirim ke ATMmu. Kalo sekarang belum ada. Adikmu masih perlu buat bayar SPP.”
“Waduh pak. Aku nanti telat yang mau beli bahan praktikum.”
“Sekarang bapak masih belum ada cong. Ya udah gini aja, jum’at insya Allah bapak kirim.”
“Ya udah lah pak. Aku tunggu Jum’at.”
Sempat terlintas rasa bersalah di benakku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku takut pacarku, bahkan teman-temanku menjauh jika penampilanku tidak gaul.
Minggu pun tiba. Aku dikirimi uang oleh bapak pada hari jum’at. Tapi pada malam harinya, jadi capek nunggu dari pagi ngecek ATM. Walau hanya dua ratus ribu, cukuplah untuk membeli baju di distro.
Aku berangkat ke Kenjeran memakai motor CBR anak tuan kostku lagi. Dina sebelumnya menelepon dan menawarkan untuk mebawa mobil jazznya. Tapi aku menolak, agar aku terlihat gentle.
Seperti umumnya muda-mudi baru jadian, kami bersuka ria di sana. Kami disana sampai sore hari. Hampir maghrib baru kami pulang.
Ketika kami tiba di pagar rumahnya, ia berkata bahwa ia bahagia sekali hari ini. Ia juga ingin berakhir pekan lagi denganku, tapi di tempat yang berbeda. Aku hanya mengangguk disertai dengan senyuman. Dan satu yang mebuat hatiku berdebar-debar dan bahagia. Ia memberikan sun jauh di pipi kananku. Kemudian ia langsung berlalu masuk ke dalam rumahnya. Aku hanya bisa bengong, itu yang pertama bagiku.
Aku pun kembali ke kosan dengan hati berbunga-bunga. Yah, itu untuk pertama kalinya. Bahkan aku sulit tidur gara-gara kejadian tadi sore. Begitu indah tak terperi.
.........
Aku jatuh sakit. Mungkin kurang istirahat. Aku putuskan untuk pulang ke Sampang. Sebelumnya aku sudah bilang pada Dina bahwa aku tidak bisa berakhir pekan dengannya minggu ini. Ia tanya kenapa. Aku jawab banyak tugas. Ia menerima. Aku juga ijin ke sekolah dua hari, jum’at dan sabtu. Jadi aku bisa sekalian liburan di rumah.
Tiba di rumah, aku disambut dengan wajah cemas bapak dan ibu, karena sebelumnya aku sudah memberi kabar pada mereka. Mereka pun merawatku dengan penuh perhatian sehingga aku bisa sembuh dengan cepat. Hari sabtu kondisiku telah pulih. Aku pun membantu bapak bekerja walau hanya sedikit.
Minggu pagi aku mendengar kabar dari ibu bahwa ada kecelakaan tadi subuh di desa sebelah. Ibu menanak nasi dan aku membetulkan posisi kayu bakar, aku dan ibu bercakap-cakap. Tiba-tiba bapak masuk.
“Cong bawakan air satu ember. Di depan ada mobil bannya bocor. Mungkin gara-gara pecahan kaca mobil yang kecelakaan tadi subuh.”
“Aku masih repot nih pak.”
“Sebentar saja cong. Ini bapak mau ngambil kompor.” Aku mengangguk. Bapakku kembali ke bengkel sambil membawa kompor untuk menambal ban.
Tanganku kotor oleh arang kayu bakar tadi. Wajahku juga kusam karena berada di depan tungku. Maklumlah orang susah, pakai kayu bakar.
Ketika aku keluar membawa ember, aku melihat dua cowok dan tiga cewek dari kejauhan. Kutafsir mereka adalah penumpang mobil yang bannya bocor. Aku jongkok memberikan ember pada bapak. Bapak juga bilang ternyata mereka adalah penumpang mobil yang mau jalan-jalan ke pantai Camplong.
Aku pun berdiri ingin masuk ke rumah lagi. Tiba-tiba salah satu dari cewek tadi mendekat.
“Masih lama mas?” suaranya tak asing bagiku.
Ternyata ia Dina. Aku kaget dan Dina kaget melihatku dan tampangku. Sejenak ia tertegun, kemudian tampaklah dari wajahnya ekspresi kesal dan marah. Terlontarlah kata-kata yang tak pernah kubayangkan darinya.
“Dasar kampung! Jadi kamu bohongin aku selama ini. Kamu bilang, kamu anak bos besi tua. Eh ternyata cuma anak tukang tambal ban. Aku gak percaya lagi sama kamu. Kita putus!”
Kalimat itu ia ucapkan di depan bapakku. Seketika aku diam. Tak kuasa kumenahan amarah, malu, dan sesal yang bercampur.
Aku marah karena ia mengucapkan itu di depan bapak. Aku malu karena ia mempermalukan aku di depan bapak. Bapakku nanar menatapku, matanya merah menahan amarah. Dina telah pergi bersama teman-temannya. Aku hanya bisa tertegun dan menunduk.
Tiba-tiba flashback masa kecilku berhamburan di benakku. Aku ternyata gengsi mengaku pada teman-temanku tentang bapak. Bapak yang dengan ikhlas mengayuh sepeda sejauh dua kilometer hanya untuk mengantarku ke SD. Bapak yang rela bangun tengah malam untuk mengantarkanku ke kamar kecil karena aku takut. Bapakku yang rela diterpa asap knalpot, rela tangannya berlumpur oli, rela terlentang di bawah mobil, rela berpanas-panas di samping jalan protokol hanya demi aku, ya, hanya demi aku, demi pendidikanku.
Seketika aku sadar, aku tetaplah anak bapakku, anak tukang tambal ban, tak akan berubah. Bapakku berlalu ke dalam rumah. Kulihat sekilas, ada sedikit genangan air mata di ujung pelupuk matanya. Hatiku ngilu, aku telah menyakiti hatinya.

By: @anshorif

KETIKA TAKDIR BERSYA’IR (Antologi cerpen demangan news edisi 23)

          KETIKA TAKDIR BERSYA’IR

          Hari ini adalah hari yang istimewa. Hari jum’at yang disebut hari terbaik, benar-benar sempurna. Suara bising kendaraan berlalu lalang, sesekali mendengar klakson mobil yang menyapa. Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh semua siswa SMA, karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan siswa Sekolah Menengah Atas.
          Perjuanganku terjawab sudah, tidak sia-sia perjuanganku hingga belasan tahun mengayun pena di bangku sekolah, karena aku lulus dengan nilai terbaik Di SMAN 1 Modung mengalahkan sainganku. Setelah agak jenuh memandang papan pengumuman, aku pergi menemui kekasihku, aku baru ingat kalau aku mau mondok ke Surabaya.
“Nazril…!” panggil Rina saat aku mau menghampirinya.
“ Rin, Ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu. Ini tentang hubungan kita setelah hari ini dan seterusnya.” Aku mencoba untuk menjelaskan.
“Maksud kakak apa? Jangan bilang kalau kakak ingin ninggalin Rina!” Tanya Rina, khawatir.
“ Rin, kamu benar. Kakak akan ninggalin Rina, tapi itu hanya sementara saja. Karna kakak besok pagi harus berangkat kesurabaya untuk menuntut ilmu di pondok pesantren” jelasku pada Rina, walau aku tahu ia tidak akan kuasa dengan kejadian ini.  Airmatanyapun menggenang di pipinya.
Mungkin dia ingat waktu bersamaku. Karena hampir setiap hari aku mengajari materi pembelajaran yang ia tidak mengerti. Aku tahu dia sangat mencintaiku, aku takut ia kesepian tanpa diriku.
“ Ril, aku tak bisa jika harus tanpa dirimu di sisiku, aku harap kita akan selalu bersama” Lirih Rina dalam tangis di pelukanku.
           Setelah itu aku antar Rina pulang seperti biasa. Namun aku merasa telah mengiris hatinya, karna waktu dia membonceng di belakangku isak tangisnya masih kudengar. Sesampai Di Rumahnya aku berpamitan untuk yang sekian kalinya. “ Jadilah lebih mandiri walau tanpa kakak”.
          Setelah aku pulang dari rumah Rina, aku bergegas untuk beres-beres dan menyiapkan bekal untuk besok, semua baju dan sarung telah aku masukkan dalam tas besarku. Keesokan harinya ternyata hujan lebat membuat si Raja siang tersimpu malu menampakkan wajahnya, sesekali kilat menyambar menerangi jagat raya namun itu hanya sebentar. Aku di antar oleh keluarga besarku yang berangkat di tengah hujan yang merana.
          Hujan lebat yang mengguyur mulai tadi subuh membuat suasana indah bagi pecinta asmara, beda halnya dengan diri ini yang merasa kesepian tanpa Rina di sampingku.  Perlahan hujan mulai reda, pelangipun ikut merasakan kebahagiaan dengan berhentinya hujan. Tapi itu tidak seindah ketika aku bersama Rina. Setelah perjalanan yang panjang akhirnya kita sampai di ponpes yang penuh dengan kesederhanaan.
          Beberapa hari kemudian aku mulai sekolah madrasah dan kuliah di Surabaya. Fakultas yang aku pilih bukan sembarangan, sehingga membuat aku harus berfikir berkali-kali supaya waktuku tidak terbuang sia-sia. Tanpa aku sadari aku lupa tidak menghubungi Rina yang selalu merindu diantara embun di sore hari. Tanpa terasa 6 bulan aku lalui tanpa masalah. 3 hari lagi santri pulang kerumahnya masing-masing. Aku berniat untuk menemui Rina di Taman SMAN 1 Modung pada hari minggu nanti.
          Aku sekarang ada di rumah, perjalanan yang cukup melelahkan membuat tubuhku lemas dan letih. Sehingga aku tertidur pulas. Tanpa terasa adzan shubuh berkumandang di surau sana. Aku bergegas mengambil wudhu’ dan melaksanakan solat shubuh bersama keluargaku. Setelah raja siang mengintip di ufuk timur aku mencoba untuk menghubungi Rina berkali-kali, tapi tidak ada jawaban darinya. Sehingga aku putuskan untuk pergi kerumahnya.
          Aku pergi kerumah Rina, namun hasilnya Nihil. Aku mencoba untuk mengunjungi rumah sahabatku yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya Rina. Setelah aku sampai aku langsung bertanya tentang Rina. “ wan, Apa yang terjadi sama Rina, apa mungkin ia sudah punya cowok yang lain?”. Ridwan hanya tersenyum. “ boy, kamu salah menilai dia,  dia itu orangnya setia dia selalu menunggu kabar darimu, tapi kenapa kamu tidak pernah hubungi dia?”
“ apakah, yang kamu katakan itu benar?  Ya sudah, aku mau minta maaf sama Rina.  Aku yakin dia ada di suatu tempat yang memadukan cinta kita”  Gegasku berangkat.
          Setelah sampai di Taman SMAN 1 Modung, aku melihat Rina duduk manis di Ayunan kayu yang pernah aku buat dulu. “ Rina, maafin kakak yac, karna selama ini kakak terlalu sibuk dengan sekolah kakak, sehingga lupa untuk menghubungi Rina”. Sapaku memohon di depannya.
“ Hm, aku mengerti kok kak! Keadaan seakan-akan memisahkan kita. Namun aku percaya sama hati ini dan segenggam kepercayaan yang aku berikan pada kakak, tidak akan kakak sia-siakan” jawab Rina pelan, sehingga aku larut dalam haru.
“ kakak merasa menjadi orang yang paling beruntung telah mendapat segenggam kepercayaan dari wanita sepertimu de’..!,  tidak mungkin kakak menyia-nyiakannya”.
          Hari-hari berjalan dengan sejuta kepastian rahmat Ilahi robby. Aku bahagia karna segenggam kepercayaan itu bersemi menjadi taman bahagia kami dalam mengarungi bahtera cinta sejati. “TERIMAKASIH RINA”.

“Cinta tak selamanya menjadi arah kepercayaan.
Namun, Kepercayaan  menjadi jalan menuju arah Cinta yang sejati”.
                                                                            (Mr. Adriands Mhr)

By: Syaifullah Nazril B-07 n Crew DN
       SESSYAILZ GROUP