Memberikan inspirasi dan informasi

Media kreasi Pondok Pesantren Syaichona Moh. cholil.

Crew Demangan News

Memeberikan yang terbaik dan selalu konsisten adalah prinsip kami.

LP3S

lembaga penerbitan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil

Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil

Pondok Pesantren YAng didirikan Langsung oleh Kyai Cholil Demangan Barata, Bangkalan Madura

Karya DN

Koleksi majalah DN.

Jumat, 06 Februari 2015

Aku Bukan Nila Yang Hilang

Aku Bukan Nila Yang Hilang

Ketika matahari terpaut di dinding langit, maka ku buka jendela saat itu juga, sejuk  dengan sedikit embun yang belum sempat kering, serta sedikit  nyanyian burung  yang membimbing diriku agar aku segera mandi.
“Dunia sedang apa kau saat ini
Kenapa kau sisakan hari untukku
Bukannya lebih indah sendiri
Dari pada  harus sekian kali menangis
Namun  tak ada yang peduli”.
         
Ku baca sekelumit syair dari buku yang aku baca, aku memang sedikit bingung dengan kata-kata itu, ach… biarkan saja  yang penting  tak mengganggu hidupku,  aku terus merenung menghimpit khayalanku. Mataku sempat terseok-seok disaat aku melihat Nila disamping rumahku, memang jalan disamping rumahku terdapat rumah kosong, tapi aku meyakini dirumah itu sebenarnya tidak kosong, sebab meski aku orang baru di kampung  panca nila ini, aku sempat bertemu dengan seseorang didalamnya bahkan didalam rumah itu terdapat  dua orang sahabat yang sangat ramah sekali, aku juga pernah berkenalan dengan salah satu penghuni dirumah itu yaitu Nila sahabatnya Airin.
          Malam jum’at manis, aku semmpatkan untuk membaca yasin di kamar, aku tawassul juga kepada seluruh keluargaku ,  aku terus getarkan bibirku untuk bermunajat kepada Allah sang pencipta serta memohon perlindungan dari segala hal yang tidak di ridhai-Nya, seusai sholat isya’ disaat mata setengah sadar seakan ada yang aneh dalam  diriku, tiba-tiba saja Nila menggugah mimpiku, dia terus menjerit kesakitan, karena dia didzalim oleh lima perampok rumahnya saat itu, dia sendiri berusaha meminta pertolongan tapi tak seorangpun mendengar jeritannya,  hingga akhiranya perut Nila tertikam oleh senjata tajam perampok, akupun kaget, memberontak dari tidurku, keringat dingin membanjiri seluruh tubuh kurusku, aku berfikir maksud dari mimpi yang seakan nyata itu, namun tiba-tiba saja HP ku bedering, mennghalangi fikiran untuk merenungi mimpiku itu.
“ Asalammualaikum ……ini kak abdillah ya….”
“ Maaf…ini siapa ya……?” tanyaku bingung”
“ ini aku nila kak…? Maaf ganggu ya…?”
“ tidak..!!! malah seneng kok….!, tumben nelfon memang dari mana Nila tahu nomer aku…?” Pungkasku merayu, sekaligus cenge-ngesan sebab ditelfon sama orang yang  aku harapkan,
“ Kak abdil sekarang  punya waktu ga’…?, soalnya aku bingung  banget nich dan juga ada satu hal yang harus  nila katakan sama kak abdil, yang tak pernah aku katakan kepada orang lain sebab aku yakin hanya kakak yang pantas menerima  ucapanku ini, tapi kalau  kakak sibuk ga’ apa-apa biar aku nanti ngajak kakak lagi malam jum’at depan, bagaimana….?”,
“ oh ga’…ga’….sibuk kok beneran ga’ sibuk, memangnya Nila mau ketemu dimana…?” gugupku menyelimuti cuaca dinginnya malam ini.
“ kalau didepan rumah aku bagaimana..?, kebetulan aku lagi sendiri, airin sedang keluar rumah…!!!” ajaknya serius
“ gimana ya…baiklah kalau begitu sebentar lagi aku kesana?”  Ragu hatiku,  meneror  kesempatan emasku yang eman untuk dibuang.
          Aura dingin menyusup kedalam  sum-sum tulanngku, hampir tak tahan dengan kedinginan ini, demi cinta aku harus korbankan semuanya untuknya, malam memang semakin pekat aku dan nila duduk di depan rumahnya sambil menatap langit yang begitu pekat, aku sediikit  gemetar disaat berdua dengannya, mungkinkan ini yang dinamakan cinta , atau kalau bukan perasaan apakkah ini…?, hatiku berdegup kencang disaat Nila menyandarkan kepalannya  kepadaku, dia sedikit bercerita tentang kesedihan, tapi ketika kutanyakan tentang dirinya  nila menolak dengan derai air mata, aku sempat bingung dan tak ingin menggugahnya sebab aku takut menyakiti perasaannya.
“ Nil… apakah ada seseoarang yang telah mengisi hati kamu…?” tanyaku pasti
“ Maksud kak  Abdil apa…?” jawabnya bingung
“ apa  kamu sudah punya pacar, tunangan atau belum..?”
“  kalau tunangan belum tapi kalau pacar iya punya, tapi kalau oranya mau?”
“  maksud Nila  apa, dan siapa yang beruntung  mendapatkan hati seorang gadis sebaik dan secantik dirimu” tanyaku kaget terasa frustasi.
“ kamu kak ……!!!, sejak kakak berada disini sebenarnya  aku selalu melihat kakak , dan sejak saat itulah cinta itu datang dihatiku, maaf aku telah berani jujur tentang perasaan ini kak….!!!”       
          Duarrr…. Hatiku pecah berantakan dimana-mana, aku  merasa bahagia sekali,  batinku sempat kaget dengan pengakuan Nila barusan, aku mencoba berusaha  untuk  tenang  dan ku anggukkan kepalaku sebagai intonasi dari kesetujuanku, malam begitu angkuh dengan pekatnya, akhirnya aku memohon pamit  serta berterima kasih kepadanya.
          Mataku sempat terlelap tiga jam itu berarti  waktu shubuh  tinggal setengah jam lagi, namun  dering HP-ku lagi-lagi menggugah nyenyaknya tidurku, aku baca sekelumit kata yang membuatku kaget dari nila  ( kak….. tolong aku, sekarang aku diganggu sama seseorang, tolong kak kerumah secepatnya, kalau tidak kakak  tidak akan bisa bertemu dengan nila lagi), mataku langsung membalak akupun tanpa pikir panjag menerobos pintu untuk menyelamatkannya.
          Shubuh sebentar lagi hadir, akupun  bergegas masuk kerumah nila,  tapi kenapa terasa sepi, “mungkinkah Nila mengelabuhiku, berpura-pura hanya untuk membuatku panik”  besit batinku kesal, aku memang merasa ada yang aneh dengan rumah ini, sebab yang aku tahu rumah ini hanya ada dua orang, yaitu nila dan airin. Hatiku kaget dengan datangnya suara gemuruh serta suara orang menjerit-jerit, dan aku sangat kenal dengan suara itu, “ kak abdil…tolong aku, tolong..!!!” jerit nila dengan pakaian serba putih yang terbang dengan sesosok penampakan hitam besar yang sedang menyeretnya, aku bingung, heran dan  tubuhku lemas setengah mati, aku tersadar  tak perduli dengan apa yang terjadi kepada nila, aku coba menolongnya namun aku terpental jauh  sampai keambang pintu, kubanggkit namun ketika hendak menolongnya  lagi-lagi aku terpental jauh hingga keningku terluka, aku bangkit  lagi demi cintaku tapi suara gemuruh dan besar itu menghalangiku, “ hei…..manusia berani sekali dirimu mau menolongnya, kamu harus tahu bahwa dia seharusnya di siksa seperti ini, sebab dia melanggar janji dengan kami sebagai raja jin disini, bahwa dia tidak boleh jatuh cinta kepada manusia”, aku bingung dengan maksud suara dari penampakan besar itu, aku mencoba bangkit  kembali dan berusaha  menolong nila  yang hampir kasat mata sebab di bawa pergi oleh penampakan hitam itu, namun hasilnya sama,  aku terpental lebih jauh hingga keteras depan rumahnya, sekali lagi  disaat aku mencoba bangkit tapi aku tak kuasa tiba-tiba  bayangan besar itu mendekat, “lari…..lari…..lari.. kak abdil… cepat lari, jangan hiraukan aku lagi kak,,!!!, aku bukan manusia kak…!!!, nila hanyalah arwah penasaran yang  jatuh cinta sama kakak”,  panik nila yang membuat air mataku pecah, aku terus maju menerobos bayangan hitam itu demi nila, demi cinta dari dua dunia, kali ini perjuanganku membuat nila hilang, aku bingung kenapa aku sekaranng tidak bisa menyentuhnya .
          Shubuh telah tiba, namun diriku tak sanggup berdiri lagi, aku mencoba bangkit dengan sedikit kekuatan dan air mata yang tak bisa  berhenti sebab aku kehilangan nila, disaat aku tahu nila yang sesungguhnya, dengan air mata yang basah  aku pingsan persis di depan rumah nila, bayanganku seakan diterpa angin yang begitu dingin, namun tiba-tiba nila hadir  dalam dunia pingsanku.
“ Assalamualaikum…..,kak abdil maafin nila, sebab nila ga’ jujur sama kakak siapa nila yang sesungguhnya, nila hanyalah bagian dari sejarah kampung ini,  sebab  dulu aku adalah seseorang  yang sangat cantik dan kaya raya, begitu banyak kaum adam yang terpesona dengan kecantikan dan kekayaanku, tepat  12 juni 1970, atau sekitar tiga puluh dua tahun yang lalu, aku dirampok oleh lima orang pemuda, ketika aku ingin melarikan diri tiba-tiba saja aku terjatuh sebab dilempar  sebuah pisau besar oleh perampok itu, dan disaat itu pula aku pergi unuk selama-lamanya, mereka baru sadar bahwa aku mati ketika  mereka hendak mengaggahi tubuhku, baru ketika bajuku terlepas setengah badan mereka menyadari kalau aku mati, akhirnya mereka menguburku dibelakang rumah ini, kemudian mereka melarikan diri, tapi untung, ulah perampok itu di bayar langsung ketika sebuah truk melindas tubuh mereka di perempatan jalan itu. Sebab itulah kampung ini di namakan kampung panca nila, yang maksudnya,  panca adalah lima pemuda itu, sedangkan nila adalah saya yang disangka hilang oleh orang kampung disini.  Kak abdil…..!!!, sekali lagi aku minta maaf ,tolong kubur kembali aku semestinya sebab aku adalah seorang muslimah, kak……!!!, aku pamit dulu, semoga kakak selalu bahagia amin, kak…. Aku mencintaimu, Wassalamualaikum.
          Aku pun akhirnnya siuman, begitu banyak orang disamping diriku, ketika kusadari aku telah  berada dirumah, teringat kejadian nila aku berusaha untuk bangkit, aku ceritakan semuanya kepada orang  bahwa mitos nila hilang itu ternyata palsu, bahwa sesungguhnya nila di bunuh bukannya hilang. Setelah itu akupun pergi kerumah nila, meskipun sebenarnya tubuhku  belum sehat, aku berjuang sekuat tenaga untuk mengubur kembali, serta menyolati nila sebagai mana mestinya, aku lega sebab bisa melepas nila denangan senyuman.
          Aku kembali kerumah namun sepertinya  ada yang aneh dengan  saku bajuku, aku lihat ternyata hanyalah sepucuk surat yang sedikit lusuh dari nila.

( To: kak Abdil Penggugah Hatiku )

Assalamualaikum
      Kak abdil…!!!, terima kasih semuanya  sebab perjuangan kakak,
sekarang Nila sudah tenang,
Nila tidak mengharapkan cinta yang lebih dari dirimu,
tetapi seandainya waktu bisa  ku kendalikan,
maka aku akan putar untukkmu,
sekali lagi terima kasih kak, tanpa kakak nila bukan apa-apa,
dan nila titip syair ini untuk hatimu…!!!.
“Bila waktu datang untukku
Kemanakah aku akan membaginya
Bila semua ada dalam aksara
Kenapa aku hanya bagian dari sejarah
Sudahkah lama sisa waktu yang terhapus
Tapi kenapa goresannya tetap utuh
Dengan apakah aku usap darah yang pecah
Bila air mata tak mampu berhenti
Kak abdil….. bisakah aku berjumpa kembali
Bila seinci terkuas dalam masa lalu
Kak abdil……selamat jalan…!!!.”
( By: Bukan Nila Yang Hilang )

By: Kang Aaf
    (14 NOV 2012)


“SENANDUNG CINTA ABADI” (Cerpen demangan News Edsi 21)

“SENANDUNG CINTA  ABADI”

          Malam bertaburan bintang yang bercahaya serta menghiasi seantero jagat raya nan selalu setia menemani rembulan di tengah pekat malamnya  di sertai juga sejuknya angin yang menyelimuti ruang hampa  yang menembus nan membekukan tulang sum-sum jika tanpa kata-kata cinta. dimalam itulah Rifqi  termenung  seorang diri tanpa ada yang menemani, bahkan kisah  yang dulunya indah kini telah lenyap bahkan lebur membubur tanpa tersisa sepatah katapun yang seharusnya masih tersisa. Terkadang Rifqi menangis tak kuasa melihat kejadian  Fina berjalan berdua dengan laki-laki bule asal Belanda  di beberapa waktu yang lalu. Rifqi mencoba menahan beban itu, tapi tak bisa. bahkan hati tak bisa lepas dari bayang-bayang Fina. Fina tak pernah buyar dalam bayangan Rifqi meski Fina telah menikam hatinya dengan belati cinta yang lepas.
pagi telah menampakkan cahayanya di ufuk timur. jam pun  mulai terbangun di angka 07:00 WIB, serta dihiasi embun pagi yang hampir kering. tak ketinggalan pula kicauan burung  yang seakan dia terus menghibur kelaraan hati Rifqi  yang semakin tak bertuah ini. burung-burung itu pula yang selalu mensyairkan syair-syair yang begitu syahdu untuk hati Rifqi saat itu. Seperti biasanya Rifqi melakukan aktivitas  sehari-harinya  di SMAN 1 surabaya.
kegiatan sekolah dia kerjakan se maksimal mungkin. mata pelajaran pun telah usai. sepulang dari sekolah ia langsung menuju ke studio rekaman  karena, maklum lah  dia sebagai anak BAND yang mempunyai rutinitas lebih dalam kehidupannya. Dia ingin selalu menampilkan seni demi mengembangkan citra dan karya bangsa menjadi budi daya No. 1 di dunia. BAND yang di personili oleh salah  seorang preman kelas kakap itu yang ia kelola. bahkan Dia yang membuat sadar para preman tersebut. itu semua tidak lepas dari bakat dan pekerti baik yang melekat pada jati dirinya. Rifqi sesekali termenung mengingat  masa lalu disaat-saat  dia berkenalan dengan gadis cantik yang bernama Fina.  “lain kali hati ya mbak.  Maaf, nama mbak siapa…?” Tanya Rifqi seusai  merapikan buku Fina yang berantakan  setelah ia tertabrak dengan  sesorang di SMA nya.  “makasih ya mas. namaku Fina, kalau nama mas siapa…..?” “saya Rifqi Adnan panggil aja Rifqi. ya udah, aku masuk dulu ya…..? “. Jawab Rifqi datar  yang di sertai juga oleh anggukan  lembut dari Fina.
Bel sekolah sedang terngiang di telinga, membuat semua siswa berhamburan  bagai burung lepas yang baru saja terkurung dalam sangkar buatan manusia. Tanpa sengaja akhirnya Fina dan Rifqi bertemu kembali, “  hai…?” sapa Rifqi lembut. “ hai juga mas. oh ya mas, mas ada waktu kosong gak sore ini?”  “kebetulan nich kosong. emang ada acara apa nich…?”, pungkas Rifqi mencairkan suasan. “ gak,  Cuma  pengen jalan aja di sekitar pantai cemara. mas bisa kan....? ya anggap saja ini sebagai rasa terima kasih aku karena kakak telah nolongin aku tadi siang”. ajak Fina penuh harap. “gimana ya….? Okelah kalau gituch. lagian buat refresing otak soalnya seharian tadi PR matematikanya rumit banget”,  jawab Rifqi menyetujui ajakan Fina. dialog yang sebentar  itupun segera di akhiri.  mereka terpisah pulang kerumah masing-masing.
“Mas,  Maaf. apa gak ada yang marah nich kalau aku jalan bareng sama kamu..?”  tanya Fina setengah hawatir. “gak kok. lagian aku tidak punya pacar. kalau kamu sendiri  gimana..?”, balas Rifqi membalikkan keadaan. “saya juga masih sendiri. lagian mana ada yang mau sama saya mas…?”.  “kata siapa, oh ya,  Aku boleh jujur gak?”. “emang seharusnya jujur kan mas..!!!”  jawab Fina datar setengah penasaran. “ begini Fin, sejak dulu aku selalu mengawasi  kamu di sekolah sejak pertama kali kamu  mendaftar di SMA ini, aku mulai suka sama kamu, tapi aku malu. ingin sekali aku kenalan langsung sama kamu tapi waktunya gak ada yang pas. untunglah kejadian tadi siang telah membongkar apa yang ada dalam hati aku. sekarang aku tanya  sama kamu, mau gak  kamu menerima cinta aku..?”. Tanya  Rifqi hening. Tak lama kemudian  Fina pun mulai beranjak dari bisunya  ke anggukan kecil yang merupakan  tanda persetujuannya. di suasana pantai yang sepi itu Rifqi terlanjur mengunci mulut Fina dengan bibirnya dan gelaplah seketika.
Tiga minggu sudah dari tragedi serakah itu berlalu. Tapi yang sangat tidak di duga adalah kenyataan bahwa  Rifqi harus mendekam di penjara. Rifqi diadukan ke kepolisian oleh orang tua Fina dengan alasan telah melakukan pencabulan dan penculikan orang. meski sebenarnya Rifqi tidak pernah melakukan hal sekeji itu, tapi karena orang tua Fina  tak setuju bila Fina harus berhubungan dengan Rifqi, akhirnya jeruji besi  itu menjadi padepokannya Rifqi.
Perjalanan dipenjara memang kelam. Tapi di samping itu, justru Fina hidupnya lebih parah lagi, Fina terus merongo kesakitan bahkan dia seperti orang gila seraya mangggil nama Rifqi sekeras-kerasnya. Fina tak kuasa menahan rindu serta cinta yang bergejolak di dalam hatinya. Fina terus menjerit-jerit seakan ia merengkuh sesuatu di hadapannya sekali lagi ia memanggil nama  Rifqi.
“ Fina….??? “, sapa Rifqi setelah keluar dari penjara ketika  tuntutan dari orang tua Fina  di cabut. akhirnya hati orang tua Fina luluh tak kuasa  menahan gejolak cinta anaknya terhadap Rifqi, “ mas Rifqi......!!! benarkah ini dirimu,?, sumringah Fina seraya memeluk erat Rifqi. “ iya ini aku , aku disini karena mamamu juga Fin..”.  “makasih ya mam …!!! “, pungkas Fina lirih.
Akhirnya kisah ini berakhir  juga. ternyata  kita tak perlu mendewakan orang yang mencintai kita sebab terkadang orang mencintai itu,  menjadi bom waktu yang siap meledakkan hati kita  kapan saja… thank you…!!!

By: kholifin (remont ) & DN crew

Kamis, 05 Februari 2015

HAMPIR SAJA CINTAKU PERGI (Antologi cerpen demangan news edisi 20)

HAMPIR SAJA CINTAKU PERGI

Pagi sudah tiba mentari pun sudah sudah tampak untuk menyinari sang jagat raya, Ferdi pun bersiapa-siap untuk melakukan aktivitas sekolahnya di SMAN 1 jakarta, jam sudah menunjukkan 06.45  ferdipun harus cepat-cepat pergi ke sekolahnya, tak lama kemudian ferdi sampai di sekolahnya  dan meletakkan motornya di tempat biasa, tak terasa ferdi melihat siska, gadis yang sudah lama menjadi pujaan hatinya, sudah menunggu di depan kelas, “ hai…, udah lama ea?” sapa ferdi “ baru saja nyampek”  oh ea tadi malam emang kemana aku telfon ko’ ga’ di angkat..?” siska menyambung pembincaraann. “maaf ea… tadi malam sehabis solat isyak aku langsung tidur soalnya cape’ sekali abis nganter bokap”, “ aku kiraiin sudah punya simpenan”, ”ea ga’ lah  ta’ ada dalam hati ini kecuali kamu”,  iya ngerayu ni ye….!!! “, ”gak ko’ Cuma becanda “, tet…tet… bel berbunyi petanda sekolah masuk, dan merekapun masuk kelas masing-masing, dan mengikuti pembelajaran dengan penuh konsentrasi. Disanalah mereka menjalin hubungan dengan penuh kasih asmara dan tumbuh benih-benih cinta dalam hatinya. UNAS pun sudah di depan mata, tanda akan lulus dan merekapun sudah memakai cicin tunangan, menuju kepelaminan.
          Akhirnya yang mereka tunggu-tunggu sudah tiba tuk menjalini UNAS, hubungan merekapun semakin erat, mentari pun sudah menunjukkan taring-taringnya, ferdi dan siska sudah bersiapa-siap untuk menjalani unasnya. tring…..-tring…. Bunyi telpon siska, ia pun  mengangkatnya, “ sis maaf ea sekarang aku gak bisa menjemput kamu karena aku jemput bokapku dulu”.  ucap novi selaku teman akrab siska “ iya gak apa-apa nov jika kamu mau ngantar bokapmu “. “ tapi kamu gak marahkan …? “.tanya novi dengan penuh harap “ gak kok biar aku hubungin ferdi aja”.  Iya udah sis, sampai nanti “. Akhirnya siska mencoba menghubungi ferdi dengan harapan dia bisa menjemputya.” Assalamualaikum, iya ada apa sis“ ferdi mengawali pembicaraan. “ waalaikum salam, ferkamu bias gak jemput aku sekarang “ jawabnya panik, “ emangnya novi kemana “. “ iya novinya lagi ngantar bokapnya”, ujar siska penuh harap,” yaudah kamu tunggu disana ok..!!!. “ dengan senang hati ferdi langsung berangkat untuk menjemput pujaaan hatinya. Tit-tit klakson sepeda ferdi berbunyi, siska pun langsung keluar dan langsung berangkat untuk melakukan unas dengan baik  disekolahnya, karena setelah unas mereka berdua harus siap menetukan tanggal pernikahannya.
          Dengan senang hati ferdi bersiap-siap untuk menemui siska dan novi di café untuk membicarakan tanggal pernikahan yang telah lama direncanakan itu, 10 menit kemudian ferdi sampai di tujuan ternyata siska dan novi talah lama menunngu. “ maaf ya..? telah lama menunggu “ ucap ferdi penuh sesal,  “  gak apa-apa gimana fer udah nemuin tanggal yang pas apa belum”. “ belum sis menurut kamu tangal berapa ya..?”. Tanya ferdi membalikkkan keadaan  “ aku sich terserah kamu aja, yang penting kita bias bersatu sesuai dengan harapan kita dan semoga saja selaras dengan takdir tuhan amin”, siska hanya bias pasrah dan mengamini dari ucapanya tadi,  “ oh ya… gimana kalau tanggal 10 mendatang,  lagiankalian berdua bisa mensyukuri hasil pelulusan  jika kalian sama-sama lulus nanti, atau setidaknya bisa menghilangkan frustasi jika kalian  gagal lulus,  gimana setuju ga…?”. Novi mencoba memberi saran. “ kalau aku sich oke- oke aja “ jawab siska yang di sertai anggukan setuju dari ferdi. Tanggal 10 telah mereka sepakati undangan yang begitu banyak mulai mereka jalankan, di pernikahan yang tinggal menghitung jari  ferdi berusaha pergi kesolahan untuk menyebarkan undangan,  motornya melaju cepat dengan fikiran yang di hibur oleh bayangan siska menghilangkan konsentrasi ferdi dan kecelakaan tak bisa di hindari kejadian menjadi fatal, sehingga taka da kabar sama sekali tentang ferdi di telinga siska, siska hanya meratapi semua dengan tetesan air mata orang tua ferdi pun bingung dan tidak tahu dengan keberadaan putranya.
          Detik silih berganti dari masa kemasa yang lain,  sedangkan siska jalani hari-harinya dengan guncangan batin yang begitu dalam, hingga saat ini kabar ferdi masih hilang, lenyap sedangkan pernikahannya di depan mata, jadi mau tidak mau posisi ferdi harus di ganti dengan pilihan ibunya siska, siska merasa lebih hampa bingung dan tak punya daya untuk tetap bertahan tanpa ferdi. Novi tak tega dengan kondisi sahabatnya itu  tanpa sadar hanpondnya bordering yang mengagetkannya, novi pun terkeju ferdi yang di kabarkan telah tewas dalam kecelakaan itu ternyata saat ini menelfonnya,
“ assalamualaikum “ salam novi. “ waalaikumsalam, Novi…? Ini aku ferdi, aku ingin tahu gimana keadaan siska disana”. “ siska baik-baik aja tapi pernikahannya , aduuuh ceritanya panjang pokoknya jika kamu masih sayang  sama siska kamu datang kerumahnya besok atau kamu akan menyesal selama-lamanya”. Panik Novi bersamaan kontak yang putus karena hand pondnya ngedroup,. Disisi lain ferdi merasa terguncang dengan petanyaan yang begitu besar.hari ini adalah hari yang menantang dengan seribu pertanyaan tentang pernikahannya bagi ferdi, sehingga ferdi terus melaju cepat meski kondisinya belum fit demi mengejar cinta yang akan pergi.15 menit kemudian ferdi tiba di rumah siska semua mata terpana berdencak kagum,sedangkan siska sudah siap dengan gaun pengantin yang begitu anggun  namun ferdi terkejut disaat di sebelah siska ada seoarang  pria yang memakai baju pengantin, ternyata ferdi baru saja mendapat penjelasaan dari novi namun ini semua belum terlambat ucap Novi, “ sudahlah sekarang terserah siska  milih aku atau laki-laki itu “. Ujarnya dengan suara parau tapi cukup jelas di telinga para undangan yang  saat itu masih tak percaya  ternganga-nganga melihat yang berdiri di hadapan siska ternyata ferdi  masih hidup. Siska juga bingung menatap kepada semua orang dengan perasaan yang tak mungkin siapapun sanggup memilih dalam keadaan seperi ini, siska menatap ibunya dalam-dalam serta menatap pengantin pria di sampingnya dengan penuh harapan dan dukungan namun karena cinta yang kuat mampu membuat ibu dan calonnya mengangguk sebagai isyarat mereka  menyerahkan semuanya pada siska.ahirnya siska pun bangun dari duduknya seraya berlari kencang menuju ferdiserta memeluknya erat-erat tapi tak sepatah katapun keluar dari bibir mereka berdua dan para undangan yang hadir itu, novi mencairkan suasana dengan tepukan tangan dan di susul oleh yang lain, suasana hening menjadi senyum di saat akad nikad di ganti antara ferdi dan siska mereka saling berpandang  tajam. Air mata sempat meleleh diantara keduanya  di saat  ijab kobul di kumandangkan dan di sah kan oleh para saksi yang hadir pada wakt itu.
Cinta tak bisa di paksakan , apalagi jodoh yang ada di tangan tuhan tak kan mampu di bentang oleh siapapun, dan juga manusia di ciptakan untuk mencintai baik antara manusia dengan tuhannya atau  manusia sesama manusia sebagai mana kisah cinta pertama dalam sejarahyaitu antara  nabi adzam dan siti hawa.

Oleh : marel arief

el fatta “( bayuates )”

Terjalinnya CINTA Dalam Gabungan Sebuah NAMA (Antologi cerpen demangan news edisi 19)

Terjalinnya CINTA Dalam Gabungan Sebuah NAMA

Malam yang penuh ketengan bagi jiwa para insan, dingin rasanya kian mencekam yanyian burung malam pun terdengar ditelinga, memang malam yang selalu menghadirkan ketenangan pada jiwa manusia damai terasa bila malam dating menjelma.
Ketika adzan isya’ berkumandang Aku, Rudi, dan Agus pergi ke masjid guna untuk melaksanakan sholat isya’ setelah sholat isya’ seperti biasa kami pulang bersama sambil bercanda dan bicara ngalor-ngidul. “Dimas, aku mau ngamperin wiwik didepan ya…?” bisik rudi padaku. “Hati-hati ya, entar kena lagi” jawabku setengah mengejek. “Semuga kali ini gak” jawab Rudi. Sambil berusaha mengejar wiwik. “ya aku do’ain semuga kamu disemprot mamany lagi” timpal Agus agak nyaring, Sambil di ikuti derai tawaku. Memang sudah seminggu rudi mengatakan PDKT sama wiwik, tapi sungguh malang nasibnya kemarin malam dia cerita ke aku kalu dia kenah semmprot oleh mamanya wiwik saat ketahuan berduwaan saat berangkat ke masjid. “hei… ni anak bengong lagi” kata agus sambil menepuk pundakku. “eh ngga’ siapa yang bengong” “ah ngga’ ko’ Cuma lucu aja ingat waktu rudi cerita ke aku tadi malam kalau dia kena semprot mamanya wiwik” “kirain mikirin apa? Eh mas ehm… gimana menurut kamu kalau aku ehm… anu” agus tidak melanjutkan kata-katanya sehingga membuat penasaran. “anuan apa sich gus, ko’ pake’ gugup segala?” ehm… gini mas menurut kamu gimana kalau aku… pacaran sama ulfa?”. “apa? Pacaran sama ulfa?” tanyaku agak nyaring “ia mas kenapa kamu ngga’ suka ea?”. “ah ngga’ aku cuman kaget aja mendengarnya” ucapku lirih. “gimana menurut kamu mas Tanya agus”. “terserah kamu aja. “eh mampir dulu ngga’?” tanyaku karna tanpa terasa aku sudah berada di depan rumah. “engga’ makasih” jawab agus sambil terus berjalan. Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan ta’ menentu, pikiranku teringat ucapan agus barusan. Setelah berganti pakian aku keluar lagi mama yang sejak tadi duduk di kursi depan hanya berpesan pulangnya jangan malam-malam. Papa tidak tau kemana, mungkin lagi ke rumah om ari. Aku hanya mengiyakan pesan mama. Akupun melangkah menuju temen-temen gengku berkumpul.
Aku berjalan dengan langkah gontai, teringat lagi kata-kata Agus tadi. Ulfa, gadis lembut nan ayu di tambah dengan otaknya yang jenius dan akhlaknya yang terkenal santun. “ah…..Agus…. ! kutarik nafas dalam-dalam, dadaku terasa sesak kalau aku teringat kata-kata Agus. Langkah kakiku terasa berat, kulayangkan pandangan sekeliling jalan. Tatapanku tertuju pada benda putih yang ada tulisan, surat cinta, bukan, tepatnya puisi cinta. “ sepertinya aku tahu tuliasan ini, tulisan siapa ya..? “ gumanku. Ku baca tulisan itu baris demi baris, mesra sekali, mengisahkan seorang yang sedang jatuh cinta, tapi belum sempat di ungkapkan, karena orang itu merasa segan. Aku terharu membacanya, kucari pengarang puisi itu,ternyata. Astaghfirullah…. Di sudut kanan kertas itu ada nama pengarangnya, Ulfa, ya, Ulfa, aku ta’ menyangka kalau ini puisi Ulfa, karna selama ini aku belum pernah melihat Ulfa puisi, ku lipat kembali kertas itu, lalu ku masukkan ke sakuku, ku urungkan niat untuk pergi ke tempat geng, langkahku berbelok kekiri menuju kerumah Ulfa untuk mengembalikan kertas ini. Begutu sampai dirumah Ulfa aku langsung mengucapkan salam.
            “ Assalamualaikum “. “ Waalaikumsalam “ jawab seseorang yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku menuggu didepan pintu sambil memperhatikan bunga anggrek di dalam pot hitam, tak lama kemudian pintu terbuka. “ Assalamualaikum “ salamku lagi. “ eh, emm… Waalaikumsalam “ jawab Ulfa gugup sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. “ lagi ngapain de’ “ . Tanyaku basa-basi, karna tiba-tiba ada hawa dingin merasuk dalam tubuhku. “Gak ngapa-ngapain kok kak, cuman lagi cored-cored aja. “. “om dan tante di mana?”. “ ada diruang tengah, lagi nonton. Silahkan duduk kak! “ katanya sambil meletakkan bukunya diatas meja. Akupun duduk dikursi berhadapan dengan Ulfa, kami diam dan saling menunduk, sesekali kuperhatikan wajah Ulfa, cantik, memancarkan aura seorang perempuan yang sempurna, sifatnya yang pemalu dan penuh sopan santun semakin membuat hatuku berdebar-debar.
“ eh, nak dimas tumben malam-malam kesini “. Lamunanku buyar seketika mendengar sapaan mama Ulfa dari balik pintu diruang tengah. “ eh, ia tante, anu, ini mau pinjam buku sama adek Ulfa kemaren saya lupa tidak nyatet.” Jawabku sekenanya. “ Oo gitu, loh Ulfa, kok kakaknya tidak diberi minum ?” “ ia ma, lupa “ jawab Ulfa sambil tersenyum dan segera bangkit. “ Nak dimas, tante tinggal dulu ya “ “ iya tante “ jawabku lega. Aku duduk sendirian diruang tamu, kulihat buku Ulfa yang ada diatas meja, ada keinginan untuk melihatnya, kuraih buku itu , di sampul buku itu tertara BUKU HARIAN. Aku ragu untuk membukanya, ku lihat lagi sampul buku itu, disudut atas sampul ada tulisan “ DIFA “ siapa difa ? ku beranikan untuk membuka buku itu, baru saja aku membuka sampulnya. “ jangan-jangan di buka kak “ tiba-tiba Ulfa dating membawa nampan. Spontan aku menutup buku itu “ kenapa dik ?” “ itu buku pribadiku kak “ jawabnya lembut sambil meletakkan secangkir kopi di depanku. Ku letakkan buku itu di tempatnya semula. “ silahkan minum kak “ “ makasih dek “ “ kata kakak tadi mau pinjam buku, buku apa kak ?” mendengar pertanyaan Ulfa aku tersipu karena tadi kau menjawab sekenanya. “ lho kok diam “ “ anu dik, sebenanya aku bukan mau pinjam buku, sebenarnya aku….em…” “ em….. tapi adek janji dulu gak akan marah “ “ oke, Ulfa janji “ ujarnya sambil tersenyum.
            Sebenarnya kakak….” Kutarik nafas “ kakak Cuma mau bilang kalau kakak suka sama adek “. Sekatika tubuhku terasa ringan seakan bebas dari beban berton-ton. Tidak ada tanggapan dari Ulfa, dia hanya menunduk sambil memainkan bukunya. Pikiranku tiba-tiba tidak enak aku merasa telah menjadi seorang penghianat bagi sahabatku sendiri, Agus. Tapi aku tidak bias membohongi perasaanku sendiri.
            “kenapa dek ?” tanyaku menghilangkan kesenyapan, tapi Ulfa tetap tidak bereaksi. “ dek kakak tidak butuh jawaban adek, kakak sudah merasa cukup dengan terungkapnya perasaan ini, karena kakak sadar sepertinya adek sudah punya pilihan sendiri “ lanjutku lirih. Mendengar pernyataanku, Ulfa mendongakkan kepalanya. “ kenapa kakak bilang seperti itu “ suara Ulfa parau “ ini dek “ kusodorkan kertas yang kutemukan tadi. Ulfa terbelalak melihat itu, segera dia mengambil dari tanganku. “ dari mana kakak mendapatkan kertas ini ?” suara Ulfa meninggi, sepertinya agak marah.
            “ Jangan marah dulu dek “ kakak temukan itu ditengah jalan dekat markaz “ mata Ulfa berkaca-kaca, entah apa yang ada dalam pikirannya. “ maafin kakak dek, kalau terlalu lancing mencintai adek, sekali lagi maafin kakak, kakak pulang dulu, semoga adek menemukan kebahagian dengan pilihan adek “aku segera bangkit. Tanpa terasa ada yang menetes disudut mataku. Ku tinggalkan Ulfa yang masih menunduk “maafin kakak dek “ gumanku. “ kak “ langkahku terhenti ketika hamper mencapai pintu. “ aku akan menjawab sekarang, aku tidak ingin hal ini menjadi bebanku, begitu juga kakak “kata Ulfa sambil mengusap air matanya. Ciut sudah nyaliku mendengar kata-kata Ulfa, kecil sudah harapanku untuk memilikinya. Kuberanikan untuk menatap wajahnya.
            “ kak, apakah kakak benar-bebar mencintai Ulfa ?” “ kenapa adek bicara seperti itu, aku sangat mencintai adek. Tapi, aku…aku….tidak ingin merusak kebahagian adek.” Suaraku serak, rasanya ada yang tersangkut dalam tenggorokanku. “ apakah kakak bilang karna kertas ini ?” Tanya Ulfa sambil memperlihatkan kertas yang kutemukan. “ iya dek “ jawabku singkat. “ kalau memeng karna kertas ini, baiklah, aku akan memberikan kertas ini sama…kakak “. Kata Ulfa sambil berusaha tersenyum. Dia menyodorkan kertas itu kepadaku. Rasa tak percaya menghantui pikiranku. Dengan penuh keraguan aku ambil kertas itu.
            “ kenapa kakak ragu ? sudah lama aku menuggu kejujuran kakak, karna aku tau kakak mencintaiku, dengan sikap kakak, cara kakak menatapku, akupun merasakan hal yang sam seperti kakak, tapi sebagai seorang perempuan tidak mungkin aku mengatakan duluan.” Ulfa diam sejenak.
            “ kalau kakak masih ragu silahkan buka buku ini “lanjutnya sambil mengulurkan buku yang ada diatas meja. Ku ambil buku itu. “ di sudut kiri atas ada tulisannya kak “ “ iya aku tau difa kan?” “ tapi kakak tidak tau apa itu Difa “. Aku terdiam. “ silahkan buka kak “ akupun mengikuti perintah Ulfa. Aku terbelalak membaca tulisan dibalik sampul itu, nyaris air mataku tumpah karena terharu, jantungku berdebar-debar. Aku benar-benar tidak menyangka. Tulisa DIFA ternyata singkatan Dimas dan Ulfa. Namaku dan namanya.
            “ sudah kak “ katanya tersipu. Kutatap wajah Ulfa lekat-lekat, wajahnya merah merona , ingin rasanya kau memeluknya, tapi….ah….Ulfa ! kau belum halal bagiku. Wajah Ulfa makin merona katika aku semakin lekat memandangnya, jiwaku terasa melayang-layang.
            Setelah hitungan hari bulan silih berganti, sekarang aku dan Ulfa mulai merajut benang-benang cinta, saat dedaunan melambaikan tangan, sebagai restu tuk mengabdikan cinta, angin sepoi-sepoi turut menyaksikan kami yang ditawan cinta, bunga mawarpun yang kuncup menjadi melar dengan bersatunya kita.
            Disaat aku ngumpul sama geng “BENALU” tiba-tiba hend-phoneku berbunyi, kulihat tertara tate Aiysah mamanya Ulfa, tanpa berpikir panjang ku angkat telepon dari tante Aisyah.
            “ Nak, Ulfa ada dirunah sakit , sekarang dia sakit keras “ ujar tante Aisyah dengan suara lirih. “ apa…… Ulfa sakit tante ?” tanyaku dengan rasa takpercaya. “ iya nak, Ulfa sakit keras cepat kesini “ jawab tante Aisyah meyakinkan.
            Betapa terkejutnya aku mendengar penuturan itu sehingga tak terasa air mataku menetes dengan sendirinya.
            Lalu aku bergegas meuju kerumah sakit, tanpa menghiraukan teman-temanku, setibanya dirumah sakit Ulfa sedang berbaring dikamar darurat “RSUD SUTOMO” karang manjangan Surabaya.
            Dengan tetesan air mata aku memeluk Ulfa. Dokter keluar dari ruangan darurat itu, aku segera menghampirinya laksana kilat menyambar, lalu ku menanyakan. “ bagaimana kondisi Ulfa dok ?” dokter diam sejenak, dengan menarik nafas dalam-dalam akhirnya dokterpun berkata “ maaf anak muda, kami menolong kondisi Ulfa, karena penyakitnya liver ditambah serangan jantung, sekali lagi kami mohon maaf.” Setelah dokter usai berkata aku di tinggalkannya. Dengan perasaan yang takkaruan aku mendekati mayat Ulfayang sudah terkujur kaku, saat itu pula rasanya kau tidak punya kekuatan, karena redup bersama derita cinta, sampai-sampai dunia di sekelilingku menjadi gelap.
Oleh : Umam Munaji
C-04
                                                                                               


Terjalinnya CINTA Dalam Gabungan Sebuah NAMA (Antologi cerpen demangan news edisi 19)

Terjalinnya CINTA Dalam Gabungan Sebuah NAMA

Malam yang penuh ketengan bagi jiwa para insan, dingin rasanya kian mencekam yanyian burung malam pun terdengar ditelinga, memang malam yang selalu menghadirkan ketenangan pada jiwa manusia damai terasa bila malam dating menjelma.
Ketika adzan isya’ berkumandang Aku, Rudi, dan Agus pergi ke masjid guna untuk melaksanakan sholat isya’ setelah sholat isya’ seperti biasa kami pulang bersama sambil bercanda dan bicara ngalor-ngidul. “Dimas, aku mau ngamperin wiwik didepan ya…?” bisik rudi padaku. “Hati-hati ya, entar kena lagi” jawabku setengah mengejek. “Semuga kali ini gak” jawab Rudi. Sambil berusaha mengejar wiwik. “ya aku do’ain semuga kamu disemprot mamany lagi” timpal Agus agak nyaring, Sambil di ikuti derai tawaku. Memang sudah seminggu rudi mengatakan PDKT sama wiwik, tapi sungguh malang nasibnya kemarin malam dia cerita ke aku kalu dia kenah semmprot oleh mamanya wiwik saat ketahuan berduwaan saat berangkat ke masjid. “hei… ni anak bengong lagi” kata agus sambil menepuk pundakku. “eh ngga’ siapa yang bengong” “ah ngga’ ko’ Cuma lucu aja ingat waktu rudi cerita ke aku tadi malam kalau dia kena semprot mamanya wiwik” “kirain mikirin apa? Eh mas ehm… gimana menurut kamu kalau aku ehm… anu” agus tidak melanjutkan kata-katanya sehingga membuat penasaran. “anuan apa sich gus, ko’ pake’ gugup segala?” ehm… gini mas menurut kamu gimana kalau aku… pacaran sama ulfa?”. “apa? Pacaran sama ulfa?” tanyaku agak nyaring “ia mas kenapa kamu ngga’ suka ea?”. “ah ngga’ aku cuman kaget aja mendengarnya” ucapku lirih. “gimana menurut kamu mas Tanya agus”. “terserah kamu aja. “eh mampir dulu ngga’?” tanyaku karna tanpa terasa aku sudah berada di depan rumah. “engga’ makasih” jawab agus sambil terus berjalan. Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan ta’ menentu, pikiranku teringat ucapan agus barusan. Setelah berganti pakian aku keluar lagi mama yang sejak tadi duduk di kursi depan hanya berpesan pulangnya jangan malam-malam. Papa tidak tau kemana, mungkin lagi ke rumah om ari. Aku hanya mengiyakan pesan mama. Akupun melangkah menuju temen-temen gengku berkumpul.
Aku berjalan dengan langkah gontai, teringat lagi kata-kata Agus tadi. Ulfa, gadis lembut nan ayu di tambah dengan otaknya yang jenius dan akhlaknya yang terkenal santun. “ah…..Agus…. ! kutarik nafas dalam-dalam, dadaku terasa sesak kalau aku teringat kata-kata Agus. Langkah kakiku terasa berat, kulayangkan pandangan sekeliling jalan. Tatapanku tertuju pada benda putih yang ada tulisan, surat cinta, bukan, tepatnya puisi cinta. “ sepertinya aku tahu tuliasan ini, tulisan siapa ya..? “ gumanku. Ku baca tulisan itu baris demi baris, mesra sekali, mengisahkan seorang yang sedang jatuh cinta, tapi belum sempat di ungkapkan, karena orang itu merasa segan. Aku terharu membacanya, kucari pengarang puisi itu,ternyata. Astaghfirullah…. Di sudut kanan kertas itu ada nama pengarangnya, Ulfa, ya, Ulfa, aku ta’ menyangka kalau ini puisi Ulfa, karna selama ini aku belum pernah melihat Ulfa puisi, ku lipat kembali kertas itu, lalu ku masukkan ke sakuku, ku urungkan niat untuk pergi ke tempat geng, langkahku berbelok kekiri menuju kerumah Ulfa untuk mengembalikan kertas ini. Begutu sampai dirumah Ulfa aku langsung mengucapkan salam.
            “ Assalamualaikum “. “ Waalaikumsalam “ jawab seseorang yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku menuggu didepan pintu sambil memperhatikan bunga anggrek di dalam pot hitam, tak lama kemudian pintu terbuka. “ Assalamualaikum “ salamku lagi. “ eh, emm… Waalaikumsalam “ jawab Ulfa gugup sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. “ lagi ngapain de’ “ . Tanyaku basa-basi, karna tiba-tiba ada hawa dingin merasuk dalam tubuhku. “Gak ngapa-ngapain kok kak, cuman lagi cored-cored aja. “. “om dan tante di mana?”. “ ada diruang tengah, lagi nonton. Silahkan duduk kak! “ katanya sambil meletakkan bukunya diatas meja. Akupun duduk dikursi berhadapan dengan Ulfa, kami diam dan saling menunduk, sesekali kuperhatikan wajah Ulfa, cantik, memancarkan aura seorang perempuan yang sempurna, sifatnya yang pemalu dan penuh sopan santun semakin membuat hatuku berdebar-debar.
“ eh, nak dimas tumben malam-malam kesini “. Lamunanku buyar seketika mendengar sapaan mama Ulfa dari balik pintu diruang tengah. “ eh, ia tante, anu, ini mau pinjam buku sama adek Ulfa kemaren saya lupa tidak nyatet.” Jawabku sekenanya. “ Oo gitu, loh Ulfa, kok kakaknya tidak diberi minum ?” “ ia ma, lupa “ jawab Ulfa sambil tersenyum dan segera bangkit. “ Nak dimas, tante tinggal dulu ya “ “ iya tante “ jawabku lega. Aku duduk sendirian diruang tamu, kulihat buku Ulfa yang ada diatas meja, ada keinginan untuk melihatnya, kuraih buku itu , di sampul buku itu tertara BUKU HARIAN. Aku ragu untuk membukanya, ku lihat lagi sampul buku itu, disudut atas sampul ada tulisan “ DIFA “ siapa difa ? ku beranikan untuk membuka buku itu, baru saja aku membuka sampulnya. “ jangan-jangan di buka kak “ tiba-tiba Ulfa dating membawa nampan. Spontan aku menutup buku itu “ kenapa dik ?” “ itu buku pribadiku kak “ jawabnya lembut sambil meletakkan secangkir kopi di depanku. Ku letakkan buku itu di tempatnya semula. “ silahkan minum kak “ “ makasih dek “ “ kata kakak tadi mau pinjam buku, buku apa kak ?” mendengar pertanyaan Ulfa aku tersipu karena tadi kau menjawab sekenanya. “ lho kok diam “ “ anu dik, sebenanya aku bukan mau pinjam buku, sebenarnya aku….em…” “ em….. tapi adek janji dulu gak akan marah “ “ oke, Ulfa janji “ ujarnya sambil tersenyum.
            Sebenarnya kakak….” Kutarik nafas “ kakak Cuma mau bilang kalau kakak suka sama adek “. Sekatika tubuhku terasa ringan seakan bebas dari beban berton-ton. Tidak ada tanggapan dari Ulfa, dia hanya menunduk sambil memainkan bukunya. Pikiranku tiba-tiba tidak enak aku merasa telah menjadi seorang penghianat bagi sahabatku sendiri, Agus. Tapi aku tidak bias membohongi perasaanku sendiri.
            “kenapa dek ?” tanyaku menghilangkan kesenyapan, tapi Ulfa tetap tidak bereaksi. “ dek kakak tidak butuh jawaban adek, kakak sudah merasa cukup dengan terungkapnya perasaan ini, karena kakak sadar sepertinya adek sudah punya pilihan sendiri “ lanjutku lirih. Mendengar pernyataanku, Ulfa mendongakkan kepalanya. “ kenapa kakak bilang seperti itu “ suara Ulfa parau “ ini dek “ kusodorkan kertas yang kutemukan tadi. Ulfa terbelalak melihat itu, segera dia mengambil dari tanganku. “ dari mana kakak mendapatkan kertas ini ?” suara Ulfa meninggi, sepertinya agak marah.
            “ Jangan marah dulu dek “ kakak temukan itu ditengah jalan dekat markaz “ mata Ulfa berkaca-kaca, entah apa yang ada dalam pikirannya. “ maafin kakak dek, kalau terlalu lancing mencintai adek, sekali lagi maafin kakak, kakak pulang dulu, semoga adek menemukan kebahagian dengan pilihan adek “aku segera bangkit. Tanpa terasa ada yang menetes disudut mataku. Ku tinggalkan Ulfa yang masih menunduk “maafin kakak dek “ gumanku. “ kak “ langkahku terhenti ketika hamper mencapai pintu. “ aku akan menjawab sekarang, aku tidak ingin hal ini menjadi bebanku, begitu juga kakak “kata Ulfa sambil mengusap air matanya. Ciut sudah nyaliku mendengar kata-kata Ulfa, kecil sudah harapanku untuk memilikinya. Kuberanikan untuk menatap wajahnya.
            “ kak, apakah kakak benar-bebar mencintai Ulfa ?” “ kenapa adek bicara seperti itu, aku sangat mencintai adek. Tapi, aku…aku….tidak ingin merusak kebahagian adek.” Suaraku serak, rasanya ada yang tersangkut dalam tenggorokanku. “ apakah kakak bilang karna kertas ini ?” Tanya Ulfa sambil memperlihatkan kertas yang kutemukan. “ iya dek “ jawabku singkat. “ kalau memeng karna kertas ini, baiklah, aku akan memberikan kertas ini sama…kakak “. Kata Ulfa sambil berusaha tersenyum. Dia menyodorkan kertas itu kepadaku. Rasa tak percaya menghantui pikiranku. Dengan penuh keraguan aku ambil kertas itu.
            “ kenapa kakak ragu ? sudah lama aku menuggu kejujuran kakak, karna aku tau kakak mencintaiku, dengan sikap kakak, cara kakak menatapku, akupun merasakan hal yang sam seperti kakak, tapi sebagai seorang perempuan tidak mungkin aku mengatakan duluan.” Ulfa diam sejenak.
            “ kalau kakak masih ragu silahkan buka buku ini “lanjutnya sambil mengulurkan buku yang ada diatas meja. Ku ambil buku itu. “ di sudut kiri atas ada tulisannya kak “ “ iya aku tau difa kan?” “ tapi kakak tidak tau apa itu Difa “. Aku terdiam. “ silahkan buka kak “ akupun mengikuti perintah Ulfa. Aku terbelalak membaca tulisan dibalik sampul itu, nyaris air mataku tumpah karena terharu, jantungku berdebar-debar. Aku benar-benar tidak menyangka. Tulisa DIFA ternyata singkatan Dimas dan Ulfa. Namaku dan namanya.
            “ sudah kak “ katanya tersipu. Kutatap wajah Ulfa lekat-lekat, wajahnya merah merona , ingin rasanya kau memeluknya, tapi….ah….Ulfa ! kau belum halal bagiku. Wajah Ulfa makin merona katika aku semakin lekat memandangnya, jiwaku terasa melayang-layang.
            Setelah hitungan hari bulan silih berganti, sekarang aku dan Ulfa mulai merajut benang-benang cinta, saat dedaunan melambaikan tangan, sebagai restu tuk mengabdikan cinta, angin sepoi-sepoi turut menyaksikan kami yang ditawan cinta, bunga mawarpun yang kuncup menjadi melar dengan bersatunya kita.
            Disaat aku ngumpul sama geng “BENALU” tiba-tiba hend-phoneku berbunyi, kulihat tertara tate Aiysah mamanya Ulfa, tanpa berpikir panjang ku angkat telepon dari tante Aisyah.
            “ Nak, Ulfa ada dirunah sakit , sekarang dia sakit keras “ ujar tante Aisyah dengan suara lirih. “ apa…… Ulfa sakit tante ?” tanyaku dengan rasa takpercaya. “ iya nak, Ulfa sakit keras cepat kesini “ jawab tante Aisyah meyakinkan.
            Betapa terkejutnya aku mendengar penuturan itu sehingga tak terasa air mataku menetes dengan sendirinya.
            Lalu aku bergegas meuju kerumah sakit, tanpa menghiraukan teman-temanku, setibanya dirumah sakit Ulfa sedang berbaring dikamar darurat “RSUD SUTOMO” karang manjangan Surabaya.
            Dengan tetesan air mata aku memeluk Ulfa. Dokter keluar dari ruangan darurat itu, aku segera menghampirinya laksana kilat menyambar, lalu ku menanyakan. “ bagaimana kondisi Ulfa dok ?” dokter diam sejenak, dengan menarik nafas dalam-dalam akhirnya dokterpun berkata “ maaf anak muda, kami menolong kondisi Ulfa, karena penyakitnya liver ditambah serangan jantung, sekali lagi kami mohon maaf.” Setelah dokter usai berkata aku di tinggalkannya. Dengan perasaan yang takkaruan aku mendekati mayat Ulfayang sudah terkujur kaku, saat itu pula rasanya kau tidak punya kekuatan, karena redup bersama derita cinta, sampai-sampai dunia di sekelilingku menjadi gelap.
Oleh : Umam Munaji
C-04
                                                                                               


Terjalinnya CINTA Dalam Gabungan Sebuah NAMA (Antologi cerpen demangan news edisi 19)

Terjalinnya CINTA Dalam Gabungan Sebuah NAMA

Malam yang penuh ketengan bagi jiwa para insan, dingin rasanya kian mencekam yanyian burung malam pun terdengar ditelinga, memang malam yang selalu menghadirkan ketenangan pada jiwa manusia damai terasa bila malam dating menjelma.
Ketika adzan isya’ berkumandang Aku, Rudi, dan Agus pergi ke masjid guna untuk melaksanakan sholat isya’ setelah sholat isya’ seperti biasa kami pulang bersama sambil bercanda dan bicara ngalor-ngidul. “Dimas, aku mau ngamperin wiwik didepan ya…?” bisik rudi padaku. “Hati-hati ya, entar kena lagi” jawabku setengah mengejek. “Semuga kali ini gak” jawab Rudi. Sambil berusaha mengejar wiwik. “ya aku do’ain semuga kamu disemprot mamany lagi” timpal Agus agak nyaring, Sambil di ikuti derai tawaku. Memang sudah seminggu rudi mengatakan PDKT sama wiwik, tapi sungguh malang nasibnya kemarin malam dia cerita ke aku kalu dia kenah semmprot oleh mamanya wiwik saat ketahuan berduwaan saat berangkat ke masjid. “hei… ni anak bengong lagi” kata agus sambil menepuk pundakku. “eh ngga’ siapa yang bengong” “ah ngga’ ko’ Cuma lucu aja ingat waktu rudi cerita ke aku tadi malam kalau dia kena semprot mamanya wiwik” “kirain mikirin apa? Eh mas ehm… gimana menurut kamu kalau aku ehm… anu” agus tidak melanjutkan kata-katanya sehingga membuat penasaran. “anuan apa sich gus, ko’ pake’ gugup segala?” ehm… gini mas menurut kamu gimana kalau aku… pacaran sama ulfa?”. “apa? Pacaran sama ulfa?” tanyaku agak nyaring “ia mas kenapa kamu ngga’ suka ea?”. “ah ngga’ aku cuman kaget aja mendengarnya” ucapku lirih. “gimana menurut kamu mas Tanya agus”. “terserah kamu aja. “eh mampir dulu ngga’?” tanyaku karna tanpa terasa aku sudah berada di depan rumah. “engga’ makasih” jawab agus sambil terus berjalan. Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan ta’ menentu, pikiranku teringat ucapan agus barusan. Setelah berganti pakian aku keluar lagi mama yang sejak tadi duduk di kursi depan hanya berpesan pulangnya jangan malam-malam. Papa tidak tau kemana, mungkin lagi ke rumah om ari. Aku hanya mengiyakan pesan mama. Akupun melangkah menuju temen-temen gengku berkumpul.
Aku berjalan dengan langkah gontai, teringat lagi kata-kata Agus tadi. Ulfa, gadis lembut nan ayu di tambah dengan otaknya yang jenius dan akhlaknya yang terkenal santun. “ah…..Agus…. ! kutarik nafas dalam-dalam, dadaku terasa sesak kalau aku teringat kata-kata Agus. Langkah kakiku terasa berat, kulayangkan pandangan sekeliling jalan. Tatapanku tertuju pada benda putih yang ada tulisan, surat cinta, bukan, tepatnya puisi cinta. “ sepertinya aku tahu tuliasan ini, tulisan siapa ya..? “ gumanku. Ku baca tulisan itu baris demi baris, mesra sekali, mengisahkan seorang yang sedang jatuh cinta, tapi belum sempat di ungkapkan, karena orang itu merasa segan. Aku terharu membacanya, kucari pengarang puisi itu,ternyata. Astaghfirullah…. Di sudut kanan kertas itu ada nama pengarangnya, Ulfa, ya, Ulfa, aku ta’ menyangka kalau ini puisi Ulfa, karna selama ini aku belum pernah melihat Ulfa puisi, ku lipat kembali kertas itu, lalu ku masukkan ke sakuku, ku urungkan niat untuk pergi ke tempat geng, langkahku berbelok kekiri menuju kerumah Ulfa untuk mengembalikan kertas ini. Begutu sampai dirumah Ulfa aku langsung mengucapkan salam.
            “ Assalamualaikum “. “ Waalaikumsalam “ jawab seseorang yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku menuggu didepan pintu sambil memperhatikan bunga anggrek di dalam pot hitam, tak lama kemudian pintu terbuka. “ Assalamualaikum “ salamku lagi. “ eh, emm… Waalaikumsalam “ jawab Ulfa gugup sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. “ lagi ngapain de’ “ . Tanyaku basa-basi, karna tiba-tiba ada hawa dingin merasuk dalam tubuhku. “Gak ngapa-ngapain kok kak, cuman lagi cored-cored aja. “. “om dan tante di mana?”. “ ada diruang tengah, lagi nonton. Silahkan duduk kak! “ katanya sambil meletakkan bukunya diatas meja. Akupun duduk dikursi berhadapan dengan Ulfa, kami diam dan saling menunduk, sesekali kuperhatikan wajah Ulfa, cantik, memancarkan aura seorang perempuan yang sempurna, sifatnya yang pemalu dan penuh sopan santun semakin membuat hatuku berdebar-debar.
“ eh, nak dimas tumben malam-malam kesini “. Lamunanku buyar seketika mendengar sapaan mama Ulfa dari balik pintu diruang tengah. “ eh, ia tante, anu, ini mau pinjam buku sama adek Ulfa kemaren saya lupa tidak nyatet.” Jawabku sekenanya. “ Oo gitu, loh Ulfa, kok kakaknya tidak diberi minum ?” “ ia ma, lupa “ jawab Ulfa sambil tersenyum dan segera bangkit. “ Nak dimas, tante tinggal dulu ya “ “ iya tante “ jawabku lega. Aku duduk sendirian diruang tamu, kulihat buku Ulfa yang ada diatas meja, ada keinginan untuk melihatnya, kuraih buku itu , di sampul buku itu tertara BUKU HARIAN. Aku ragu untuk membukanya, ku lihat lagi sampul buku itu, disudut atas sampul ada tulisan “ DIFA “ siapa difa ? ku beranikan untuk membuka buku itu, baru saja aku membuka sampulnya. “ jangan-jangan di buka kak “ tiba-tiba Ulfa dating membawa nampan. Spontan aku menutup buku itu “ kenapa dik ?” “ itu buku pribadiku kak “ jawabnya lembut sambil meletakkan secangkir kopi di depanku. Ku letakkan buku itu di tempatnya semula. “ silahkan minum kak “ “ makasih dek “ “ kata kakak tadi mau pinjam buku, buku apa kak ?” mendengar pertanyaan Ulfa aku tersipu karena tadi kau menjawab sekenanya. “ lho kok diam “ “ anu dik, sebenanya aku bukan mau pinjam buku, sebenarnya aku….em…” “ em….. tapi adek janji dulu gak akan marah “ “ oke, Ulfa janji “ ujarnya sambil tersenyum.
            Sebenarnya kakak….” Kutarik nafas “ kakak Cuma mau bilang kalau kakak suka sama adek “. Sekatika tubuhku terasa ringan seakan bebas dari beban berton-ton. Tidak ada tanggapan dari Ulfa, dia hanya menunduk sambil memainkan bukunya. Pikiranku tiba-tiba tidak enak aku merasa telah menjadi seorang penghianat bagi sahabatku sendiri, Agus. Tapi aku tidak bias membohongi perasaanku sendiri.
            “kenapa dek ?” tanyaku menghilangkan kesenyapan, tapi Ulfa tetap tidak bereaksi. “ dek kakak tidak butuh jawaban adek, kakak sudah merasa cukup dengan terungkapnya perasaan ini, karena kakak sadar sepertinya adek sudah punya pilihan sendiri “ lanjutku lirih. Mendengar pernyataanku, Ulfa mendongakkan kepalanya. “ kenapa kakak bilang seperti itu “ suara Ulfa parau “ ini dek “ kusodorkan kertas yang kutemukan tadi. Ulfa terbelalak melihat itu, segera dia mengambil dari tanganku. “ dari mana kakak mendapatkan kertas ini ?” suara Ulfa meninggi, sepertinya agak marah.
            “ Jangan marah dulu dek “ kakak temukan itu ditengah jalan dekat markaz “ mata Ulfa berkaca-kaca, entah apa yang ada dalam pikirannya. “ maafin kakak dek, kalau terlalu lancing mencintai adek, sekali lagi maafin kakak, kakak pulang dulu, semoga adek menemukan kebahagian dengan pilihan adek “aku segera bangkit. Tanpa terasa ada yang menetes disudut mataku. Ku tinggalkan Ulfa yang masih menunduk “maafin kakak dek “ gumanku. “ kak “ langkahku terhenti ketika hamper mencapai pintu. “ aku akan menjawab sekarang, aku tidak ingin hal ini menjadi bebanku, begitu juga kakak “kata Ulfa sambil mengusap air matanya. Ciut sudah nyaliku mendengar kata-kata Ulfa, kecil sudah harapanku untuk memilikinya. Kuberanikan untuk menatap wajahnya.
            “ kak, apakah kakak benar-bebar mencintai Ulfa ?” “ kenapa adek bicara seperti itu, aku sangat mencintai adek. Tapi, aku…aku….tidak ingin merusak kebahagian adek.” Suaraku serak, rasanya ada yang tersangkut dalam tenggorokanku. “ apakah kakak bilang karna kertas ini ?” Tanya Ulfa sambil memperlihatkan kertas yang kutemukan. “ iya dek “ jawabku singkat. “ kalau memeng karna kertas ini, baiklah, aku akan memberikan kertas ini sama…kakak “. Kata Ulfa sambil berusaha tersenyum. Dia menyodorkan kertas itu kepadaku. Rasa tak percaya menghantui pikiranku. Dengan penuh keraguan aku ambil kertas itu.
            “ kenapa kakak ragu ? sudah lama aku menuggu kejujuran kakak, karna aku tau kakak mencintaiku, dengan sikap kakak, cara kakak menatapku, akupun merasakan hal yang sam seperti kakak, tapi sebagai seorang perempuan tidak mungkin aku mengatakan duluan.” Ulfa diam sejenak.
            “ kalau kakak masih ragu silahkan buka buku ini “lanjutnya sambil mengulurkan buku yang ada diatas meja. Ku ambil buku itu. “ di sudut kiri atas ada tulisannya kak “ “ iya aku tau difa kan?” “ tapi kakak tidak tau apa itu Difa “. Aku terdiam. “ silahkan buka kak “ akupun mengikuti perintah Ulfa. Aku terbelalak membaca tulisan dibalik sampul itu, nyaris air mataku tumpah karena terharu, jantungku berdebar-debar. Aku benar-benar tidak menyangka. Tulisa DIFA ternyata singkatan Dimas dan Ulfa. Namaku dan namanya.
            “ sudah kak “ katanya tersipu. Kutatap wajah Ulfa lekat-lekat, wajahnya merah merona , ingin rasanya kau memeluknya, tapi….ah….Ulfa ! kau belum halal bagiku. Wajah Ulfa makin merona katika aku semakin lekat memandangnya, jiwaku terasa melayang-layang.
            Setelah hitungan hari bulan silih berganti, sekarang aku dan Ulfa mulai merajut benang-benang cinta, saat dedaunan melambaikan tangan, sebagai restu tuk mengabdikan cinta, angin sepoi-sepoi turut menyaksikan kami yang ditawan cinta, bunga mawarpun yang kuncup menjadi melar dengan bersatunya kita.
            Disaat aku ngumpul sama geng “BENALU” tiba-tiba hend-phoneku berbunyi, kulihat tertara tate Aiysah mamanya Ulfa, tanpa berpikir panjang ku angkat telepon dari tante Aisyah.
            “ Nak, Ulfa ada dirunah sakit , sekarang dia sakit keras “ ujar tante Aisyah dengan suara lirih. “ apa…… Ulfa sakit tante ?” tanyaku dengan rasa takpercaya. “ iya nak, Ulfa sakit keras cepat kesini “ jawab tante Aisyah meyakinkan.
            Betapa terkejutnya aku mendengar penuturan itu sehingga tak terasa air mataku menetes dengan sendirinya.
            Lalu aku bergegas meuju kerumah sakit, tanpa menghiraukan teman-temanku, setibanya dirumah sakit Ulfa sedang berbaring dikamar darurat “RSUD SUTOMO” karang manjangan Surabaya.
            Dengan tetesan air mata aku memeluk Ulfa. Dokter keluar dari ruangan darurat itu, aku segera menghampirinya laksana kilat menyambar, lalu ku menanyakan. “ bagaimana kondisi Ulfa dok ?” dokter diam sejenak, dengan menarik nafas dalam-dalam akhirnya dokterpun berkata “ maaf anak muda, kami menolong kondisi Ulfa, karena penyakitnya liver ditambah serangan jantung, sekali lagi kami mohon maaf.” Setelah dokter usai berkata aku di tinggalkannya. Dengan perasaan yang takkaruan aku mendekati mayat Ulfayang sudah terkujur kaku, saat itu pula rasanya kau tidak punya kekuatan, karena redup bersama derita cinta, sampai-sampai dunia di sekelilingku menjadi gelap.
Oleh : Umam Munaji
C-04
                                                                                               


Selamat Jalan,sahabatku (Cerpen mading demangan news edisi 18)


Selamat Jalan,sahabatku
                         By: Imael Fawwaz Iqnasiyah


                Seperti biasanya, setiap tanggal 14 Februari, aku selalu membagikan coklat kepada orang-orang terdekatku. Bukan karena hari ini Hari Valentine yang seperti orang-orang bilang, tapi karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Hari ini aku tepat berusia 15 tahun, Banyak yang bilang, aku beruntung karena hari ulang tahunku  bertepatan dengan Hari Valentine, tapi menurutku biasa aja... Aku percaya gak percaya sama yang namanya Valentine. Ada yang bilang hari kasih saying lah….!, hari penuh cinta lah….! Kasih saying, kan bisa  dikasih kapan aja! Tidak harus Hari Valentine, kan?? Hari ini aku berangkat ke sekolah dengan senyum di bibirku.               
Rasanya hari ini aku sangat bahagia. Aku tidak sabar bertemu dengan sahabatku, Rara. Sesampaiku di sekolah, aku segera berlari ke kelas  Rara.  “ Permisi... Rara ada?”, tanyaku pada teman-teman Rara yang sebagian  besar tidak kukenal.  “ Rara belum datang, Lia...”, jawab seorang perempuan berambut panjang. “ Ya sudah, deh! Kalau Rara sudah datang, suruh ke kelas gw, ya!.  Makasih!”, ujarku. Aku kembali ke kelasku dengan perasaan kecewa. Biasanya Rara sangat rajin datang pagi. Kok hari ini tidak, ya? Ya sudah, deh! Kasih
cokelatnya nanti saja. Aku menunggu Rara sampai jam istirahat, tapi dia tidak juga datang ke kelasku. Aku kembali ke kelas Rara. “ Rara ada?”, tanyaku. “ Rara hari ini gak masuk, gak tahu kenapa...”, jawab teman Rara. “ Oh... Makasih, ya!”, ucapku sambil meninggalkan kelas Rara. Rara tidak masuk... kenapa, ya? Perasaanku tidak enak! Mungkin dia sakit. Aku akan ke rumahnya pulang sekolah nanti. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku segera berlari keluar sekolah untuk menuju rumah Rara. Memang, rumah Rara cukup jauh, harus beberapa kali naik kendaraan tapi aku merasa bahwa aku harus ke rumahnya hari ini. Rasanya hari ulang  tahunku tidak lengkap tanpa
senyum dari sahabatku itu. Tidak jauh dari rumah Rara, aku melihat ada bendera kuning. Siapa yang meninggal? Rasanya bendera itu masih baru. Perasaanku menjadi sangat tidak enak. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Rara dan keluarganya.
                 Di rumah Rara banyak orang-orang berkumpul. Rasanya saat itu juga aku merasa detak jantungku berhenti seketika. Aku segera masuk dan melihat ada apa. Di ruang keluarga rumah Rara kulihat Rara dengan wajah pucat terbaring di sana. “ Rara!!! Tidak!!!”, jeritku. Air mataku sudah tidak terbendung lagi. Segera kuhampiri Rara dan berusaha membangunkannya. “ Ra, bangun, Ra…! Lo bercanda, kan…? Lo cuma main-main, kan…? Bangun,  Ra…! Ini hari ulang tahun gw…! Lo janji mau jalan bareng…! Lo janji  mau nyanyi happy birthday buat gw…! Bangun, Ra…! Gw mohon buka mata lo...”, jeritku sambil menangis.
             Aku tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang terhadapku. Yang kuinginkan saat ini adalah Rara bangun dan tersenyum kepadaku. Orang tua Rara berusaha membawaku untuk masuk ke kamar Rara. Mereka  memberiku segelas air hangat. Setelah aku sudah cukup tenang, mereka mulai berbicara.
 “ Rara... tertabrak mobil tadi pagi saat akan berangkat ke sekolah.”, ucap ibu Rara padaku dengan isakkan tangis. “ Tadi pagi dia sangat berbeda dari biasanya. Dia bilang hari ini dia sangat senang karena hari ini kamu ulang tahun, Lia.”, lanjutnya. “ Hanya ini yang tertinggal di tempat dia kecelakaan, sepertinya ini untukmu, Lia.”, ucap ayah Rara sambil memberikan sebuah paper bag kepadaku. Paper bag itu terkena sedikit cipratan darah dan di situ tertulis:
“ Untuk sahabatku tersayang, Aulia Amanda”
             Segera kulihat isi paper bag itu, ternyata isinya sebuah kotak music yang selama ini kuinginkan. Kubuka kotak musik itu dan terdengar sebuah lagu, di dalamnya terdapat sebuah kartu yang bertuliskan: “ Happy Birthday my best friend! Semoga panjang umur, tambah cantik, tambah baik dan tetap jadi sahabat terbaik gw! Gw harap kita bisa terus bersahabat, ya!!”
                                                                                                 
                                               From your best friend, Narindra.

                Setelah membaca kartu itu, aku hanya bisa menangis. Aku akan terus menyimpan kado terakhir darinya ini. Akan kujadikan Rara sebagai kenangan terindah yang pernah kumiliki. Tanggal 14 Februari, Hari Valentine, Hari Ulang Tahunku, adalah hari yang paling menyedihkan untukku.

                            **THE END**